Rabu, Juni 30, 2010

“I’m jealous to the whole world”

Ouw yea, Lois Lane mungkin berhak untuk ngemeng kayak gitu. Dan setelah sekian lama (sekitar 12 tahun) sejak terakhir gue nonton film itu, akhirnya gue bisa memahami dan mengerti maksud ucapan doi.

Well, okay! Menurut gue sih, hal itu lucu. Selama ini gue melihat wanita dihadapkan pada kodrat dan kesombongan untuk dipuja-puji. Tapi toh di sisi lain mereka enggan mengakui kalau mereka lemah. Dan, oh, oke, gue belajar satu hal yang pasti tentang tipe wanita kayak gini; gengsi mereka selalu lebih besar dari akal sehat mereka untuk mengatakan yang sejujurnya. Bahwa mereka merasa tidak aman akan banyak hal sepele. They always feel insecure. Apapun itu, perasaan tidak aman-lah yang akhirnya membuat mereka membentuk benteng dan, yah, pada akhirnya mungkin banyak bersikap kontradiktif. Antara perasaan dan ucapan menjadi sangat berbeda, begitu kata para sesepuh.

Tapi, memang banyak wanita cukup tegar dan mampu menghadapinya. Gue tau itu. Tapi mungkin Naga Bonar benar perihal setiap wanita selalu ingin dinaikkan setali, setangguh apapun dia. Takut menyinggung perasaan orang yang akan tersinggung. Oke, gue sudahi yang ini. Hahaha. Lagipula, sudahlah. Wanita benci kalau dibaca pikirannya, walaupun sebetulnya sering kali mereka butuh itu juga.

Antara Lois dengan dunia ini, mana yang lebih penting buat Kal-El? Kehilangan dunia berarti juga kehilangan Lois, tapi untuk menyelamatkan dunia itu berarti menghilangkan Lois dari pikirannya. Beratnya, Lois nggak pernah peduli dan nggak pernah suka sama Clark. Yah, semua orang tahu siapa yang dia suka, walaupun itu bukan berarti seluruh dunia tahu siapa itu Lois Lane. Sebodo.

Dalam kasus yang sama cerita berbeda, gue memahami kata Peter, “This is my gift, this is my curse”. Keberadaan pahlawan super hanya sebuah gambaran ketakutan dan kelemahan kita yang selalu membutuhkan pertolongan. Oh, ya, tapi nggak salah-salah amat kalau itu memang harus terjadi. Toh orang yang lebih kuat memang berkewajiban membantu. Tapi Non, maaf, dalam kasus ini pahlawan super nggak ada bedanya dengan manusia biasa yang punya emosi dan punya keterbatasan. Doi bukan Tuhan, dan gue juga bukan pengkhotbah. Jadi sudahi saja wacana super a’la Mario Teguh ini. Super Mario!

Kalau bukan karena cemen dan manjanya orang, mungkin Lois nggak akan sampe ngomong kaya yang di atas itu. Kenapa? Karena orang pasti udah nggak butuh si manusia baja itu lagi. Tapi mungkin juga, toh karena Lois juga cemen maka Clark suka. Dan bukankah dunia berjalan seperti itu? Hahaha.

Kritik: Sotoy lo Ko!

Respon: Biarin! Gue kan Virgo, ye!

It’s funny to know some things spins off. So then we can learn to live our life to the fullest. Selalu ada kesempatan untuk belajar, tapi selalu saja ada beban untuk membuka mata. Ah, itu sih cuma alasan saja. Yang jelas, maksud gue memang butuh waktu untuk menyadari korelasi antara satu hal dan hal lainnya. Walaupun sekilas berbeda, tapi inspirasi datang dari mana saja. Apa sih?

“Karena menurut pengalamanku, saat kau berada di dasar, satu-satunya jalan tersisa adalah kembali ke atas” – Thaddeus Thatch, Atlantis (kira-kira begitu setelah diterjemahkan).

NB 1: Ngomong-ngomong, kenapa di sepanjang film Superman II isi banyolannya ga penting semua gitu sih?
NB 2: Eh, itu belum termasuk celetukannya Lex Luthor dan bapak-bapak yang tetep nelpon waktu Zod nyemburin badai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar