Rabu, Juni 30, 2010

Call Me Garfield

Yep, sekali-kali dengan judul bahasa inggris. Itu jawaban gue kalau-kalau kalian mau bertanya, kenapa tidak menggunakan Bahasa Indonesia yang selalu gue bangga-banggain.

Oke, cukupkan bacot ini dalam nada sol-mi-re, minor!

Lalu 8 dari 10 pembaca akan bertanya, kenapa dengan Garfield. Dan maka, ijinkan gue untuk memberi selamat kepada pasangan yang tidak bertanya, karena itu artinya kalian menolak untuk mengikuti arus.

Apapun itu.

Pertanyaan pertama butuh lebih dari 3 paragraf untuk menjawabnya. Kenapa gue tahu itu? Jelas, karena gue penulis jawabannya.

Paragraf pertama, ya, tentu saja kami berdua mempunyai dua kesamaan. Coba kalian ingat seberapa gendutnya kucing itu dan seberapa pemalasnya dia. Seperti Garfield, gue punya hak untuk menjadi gendut. Hanya saja, sayang, itu nggak pernah terjadi. Tapi walaupun gue punya hak itu, toh kalaupun bisa gue nggak akan mau. Karena gue bersyukur menjadi diri gue apa adanya. Betul?

Nggak juga. Sebenernya itu salah. Karena bagaimanapun juga, gue sering juga merasa kesal dengan keterbatasan diri gue. Menjadi diri sendiri berarti pula memaklumi keterbatasan diri. Manusiawi untuk menjadi kesal dan marah, tapi itu bukan pembenaran. Lagian kayaknya susah jadi orang gendut, susah bawa badan. Entah aneh entah untung, gue nggak pernah bisa gendut. Hahaha.

Satu yang pasti, Garfield itu pemalas. Dan kalaupun di sedikit kesempatan dia menjadi pahlawan, itu bukan karena dia membela kebenaran tapi lebih karena kebetulan. Karena walaupun benar dan betul itu bermakna sama, tapi imbuhan ke-an membuat arti keduanya berbeda.

Ah, bacot!

Seperti Garfield, gue juga punya hak untuk males. Males itu menjadi dosa kalau dia menjadi pangkal kebodohan. Jadi kalo males, asalkan pinter, ya nggak apa-apa. Ya, tapi itu pun pembenaran, jadi jangan dipercaya. Ah, tapi toh terlalu rajin juga nggak baik untuk pencernaan bukan?

Eh, ini serius. Jangan dianggap bercanda!

Gue orangnya males untung mengulang-ulang sesuatu. Gue males untuk membuat sesuatu yang bermakna sakral menjadi profan. Tapi yang jelas gue males jadi orang bego, walaupun sering juga dibego-begoin justru mendatangkan keberuntungan. Well, I’m the lucky bastard afther all. Gue males melakukan hal yang nggak penting. Jadi kalau gue melakukan hal nggak penting, itu tandanya gue sedang menganggap hal itu penting. Banyak lah kemalesan gue kalo diitung-itung. Gue juga males nulis, tapi tulisan gue sering panjang-panjang. Jelas bukan lantaran gue rajin nulis, tapi lantaran gue males ngoreksi apa yang udah gue tulis. Dan yang terakhir, gue males untuk terlalu jujur. Walaupun gue juga ga suka bohong. Jadi, percaya nggak percaya, itu terserah kalian. Intinya, seperti si kucing gendut itu gue pemalas yang (untungnya) sering keliatan rajin.

Satu temen gue pernah bilang ini berkali-kali: “Have fun with your life”. Apapun maksudnya dia ngomong itu, yang jelas gue inget karena menurut gue quotes itu nggak jelek-jelek amat. Tapi bagus juga gue inget quotes itu, karena dengan begitu semua hal berat bisa gue hadapi dengan lempeng. Nggak perlu berlebihan dalam menilai sesuatu, yang penting hidup itu jadi terlihat menyenangkan. Betul nggak?

Kenyataan memang menyebalkan, tapi bisa jadi itu karena kita baru sampai pada sebagian kecil perjalanan hidup kita. Hidup ini nggak kaya baca buku, bisa di-skip. Nggak juga kayak main game, bisa di-restart. Apapun yang lo lakukan, yang terjadi tetap terjadi. Jadi jangan menyesali masa lalu yang udah lewat, apalagi kalo itu bukan salah lo.

Hafe fun with your life is a new way to giving up the grudge and smile up for tomorrow. Kuncinya, selalu berikan yang terbaik dan apapun kerjaan yang lo mulai kerjakan sampai selesai. Cie, gue udah kaya Super Mario Teguh. Zuper!

Pada pertanyaan selanjutnya, hanya 1 dari 8 pembaca yang akan bertanya. Ada apa dengan nada sol-mi-re? Minor pula! Tapi biarlah itu jadi jawaban atas sebuah ungkapan sentimentil belaka. Karena gue lebih memilih untuk diam, daripada bicara bohong. Ya, itu pun karena sompral atau meracau tidak masuk dalam hitungan bohong.

Kalian pikir semuanya berserakan? O`ho, kalian salah. Semuanya hanya berulang, dan akan terus berulang. Semua jawaban sudah disediakan sejak di awal, sayangnya kebutuhan kita terhadap semua jawaban itu baru muncul saat kita bertanya. Dan, maka, diamlah. Karena cerita terbaik tidak lahir dari aplus.

Tidak, karena dia yang melahirkan aplus.

Sisanya, sudahi saja seperti lirik lagu Efek Rumah Kaca. Untuk siapa tulisan ini dibuat, “Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar