Kamis, Januari 07, 2010

Catatan Nomor 312: Ucapan Maaf Seorang Teman Tidak Pernah Datang Bersama Rasa Bangga

Gue pikir menjadi seorang teman yang baik merupakan kebaikan yang melebihi segala sesuatu. Selalu ada di saat dibutuhkan, selalu membantu dengan tulus, selalu memberi jalan pada setiap sudut mati, selalu tanpa pamrih. Nggak butuh alasan untuk menjadikan sesuatu lebih baik buat temannya. Nggak mengharapkan dan nggak membutuhkan balasan untuk setiap hal besar yang telah dikerjakan, tapi tetap mau menerima setiap kebaikan dengan besar hati.

Gue pikir gue bisa jadi orang yang seperti itu, dan ternyata gue salah. Gue gagal dalam membuat segala sesuatunya lebih baik buat temen-temen gue. Berusaha mati-matian dalam berperan sebagai teman yang baik, mencoba berpikir positif dalam setiap kekacauan. Ternyata semuanya hampa seperti tiang keropos yang dikerjakan kuli borongan sok tahu, menunggu saatnya runtuh dan menimpa mati semua orang di bawahnya. Mungkin benar kata Nicole, "Tiang itu sudah terlalu keropos, dan aku harus pergi untuk membangunnya lagi dari awal".

Mungkin ini memang ganjaran yang harus diterima, karena telah menjadi teman yang buta. Mungkin kekecewaan ini adalah buah dari ketidak becusan dalam menjaga tiap simpul tali pertemanan. Sehingga ia akhirnya terlepas satu persatu, sehingga ia akhirnya putus dimakan usia, sehingga ia akhirnya terlalu tegang terbentang dan berai.

Tidak pernah nalar dan logika datang bertautan dengan gelombang pasang perasaan kecut dan kerdil. Tidak pernah seharusnya pertemanan berawal dari rasa butuh dan keperluan sengit. Mungkin apa yang terjadi hari ini terjadi sejak hukum tersebut dilawan. Mungkin akhirnya semua yang kita anggap nyata memang tidak pernah ada dari awal. Mungkin semua kemungkinan memang sekedar harapan yang tidak pernah mewujud dan meraga dalam satu sosok pribadi yang kita harapkan.

Mungkin semua yang kita harapkan akhirnya harus dapat dipasrahkan ke dalam gurat kesia-siaan. Saat gue membayangkan sebuah skenario yang memiliki epilog melegakan, ternyata gue baru sadar akan keberadaan sebuah awal masalah di depan. Dan setelah semua tenaga gue terkuras, ternyata itu baru membawa gue menyelesaikan cerita pembuka. Dan dengan kebodohan-kebodohan itu gue telah menipu mereka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar