Tampilkan postingan dengan label nggak nyambung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nggak nyambung. Tampilkan semua postingan

Jumat, Juli 02, 2010

1 Juli 2010

Agnes Monica ulang tahun, tapi bukan itu yang mau gue tulis.

Quickview: nggak perlu, yang jelas ini bakalan panjang.

Sekedar kata pengantar yang sama sekali nggak ringkas.

Jam 6 sore gue memutuskan untuk ke studio (baca: lapak) Roni, temen residensi gue dari ISI. Seperti yang sering kita dengar dari para bhiksu, “Isi adalah kosong, kosong adalah isi”. Tapi Roni tidak beragama Buddha. Itu Trisno yang beragama Buddha, dan herannya dia juga dari ISI, tapi dia juga peserta residensi.

Sebelum cerita berlanjut, mungkin ada yang, walaupun ingin bertanya, tapi merasa hidupnya akan menjadi sia-sia jika harus sampai mengacungkan jari. Kenapa studio dalam tulisan ini harus dibaca lapak? Jawabannya tidak lain tidak bukan adalah karena memang lebih mirip lapak ketimbang studio.

Nah, tidak seperti yang kalian kira, gue ke studio Roni bukan untuk bicara dengan Roni. Gue ke sana justru karena tidak ada kepentingan apa-apa dengan Roni. Mungkin kalian yang membaca keheranan dengan tingkah laku gue, tapi gue pribadi udah nggak heran lagi dengan kalian yang begitu mudahnya keheranan.

Sampai di sana ternyata ada Ucok, itu temen dari ISI juga. Jadi kami bertiga di studio yang mirip lapak itu. Iqi a.k.a Chipow, Patriot a.k.a Mukmin a.k.a Majong, Luthfi a.k.a Bala, dan Walid sudah terlebih dahulu berpulang mendahului kami. Dua yang disebut pertama temen seangkatan gue dari ITB, dua sisanya dari IKJ. Jangan tanya gue mereka semua dari studio mana, tanya aja mereka kenapa milih studio itu. Karena dengan cara itu, kalian juga akan mendengarkan curhat mereka tentang dunia seni yang mereka geluti selama ini. Apa gunanya kalian bertanya mereka dari studio mana kalau kalian tidak tahu apa yang mereka kerjakan di studio? Atau jangan-jangan mereka memang tidak pernah bekerja di studio?

Nggak lebih dari semenit gue sampai sana, Ucok menerima telefon.

“Halo!” katanya. Tapi kata-kata selanjutnya gak gue pedulikan, karena buat apa mengurusi urusan orang lain? Mereka toh sudah dewasa dan sudah bisa memutuskan masa depan mereka sendiri. Buktinya, toh mereka bisa jadi sarjana. Dan dari telefon itulah cerita berkembang, walaupun sama sekali nggak wangi.

“Eh!” Tegur Ucok, “Kau jadi balik sekarang?”

“Tar lagi. Napa? Lo mo cabut sekarang juga emangnya?”

“Iya. Aku harus ke Slipi. Males macetnya kalau kemalaman.” Ya, dari namanya kalian pasti tahu gimana cara dia ngomong kata males dan macet. Tapi kalau kalian ekspatriat, mungkin kalian tidak bisa mengimajinasikan apalagi menangkap apa yang saya maksud di sini.

Selanjutnya, gue akan melanjutkan kelanjutan cerita berlanjut ini sampai situ.

Pembicaraan berlanjut pada kesepakatan kami berangkat bareng setelah Ucok terlebih dahulu kencing di toilet umum yang disediakan gratis di sana. Dan walaupun dialog antara gue dan Ucok terjadi di studio Roni, tapi satu-satunya pembicaraan dengan Roni yang gue inget adalah saat gue mau cabut dan kami saling mengingatkan untuk berhati-hati. Entah apa maksudnya, mungkin sudah tradisi orang Jawa untuk mengatakan hal itu. Itu si Roni kalau tidak salah, berarti benar, dari Jepara.

Kami berjalan kaki hingga shelter bus Gondola dan menunggu bis gratisan yang melewati jalur arah barat. Bis pergi di saat kami masih sekitar 20 meter dari shelter. Tapi bis itu bukanlah satu-satunya di Ancol, seperti juga tidak cuma satu perempuan di dunia ini (Hey!). Maka kami tetap berjalan dengan langkah yakin. Jelas keyakinan kami tidak bertepuk sebelah tangan, karena setelah berdiri lama akhirnya bis yang lain datang. Kami masuk berebutan dan saling berdesakan. Tapi untung kami kebetulan pria lajang yang belum terikat perempuan manapun, jadi kalau bersenggolan tidak ada yang melarang (Hey!!). Kalaupun itu bukan muhrimnya tapi toh nggak ada yang protes. Karena bagaimana pun juga, sekedar bersenggolan di bis gratisan yang penuh sesak itu tidaklah bijaksana kalau sampai harus dibilang haram. Memang tak kenal maka tak sayang, tapi bukan berarti harus bermusuhan saat di naik bis berbarengan. Apalagi jika harus sampai pukul-pukulan. Sayangnya pertemanan pun sering pula dijadikan alasan untuk melambaikan tangan karena takut terdampar di tengah jalan (Hey!!!).

Tantangan selanjutnya, sekumpulan bau amburadul yang entah apa saja.

Asal tau saja, saat ini masih musim liburan anak sekolah. Herannya kenapa gue dan Ucok yang udah sarjana malah kena imbasnya. Buktinya, turun dari bis gratisan wara-wiri itu kami harus bersiap pula menghadapi antrian di bridge busway shelter. Waw! Itu istilah baru.

Gue kasih Rp 5.500,- ke mbak-mbak penjual karcis. Maksudnya biar dikasih kembalian Rp 2.000,- karena nanti gue naik bis Metro Mini nomer 62 dengan tarif segitu. Biar praktis. Uang kembalian dan karcis gue masukin kantong, dan karcis gue kasih ke petugas setelah gue kencing. Mungkin petugas itu tadinya pemarah, tapi kemudian dengan merobek-robek karcis dia menemukan ketenangan yang selama ini dia cari. Mungkin bagi anda yang pemarah, menjadi petugas penyobek karcis busway bisa menjadi pilihan terapi yang menarik.

Gue dan Ucok ngobrol sembari menunggu busway yang entah di mana supirnya. Heran, kenapa sebutannya busway padahal di badan bis jelas-jelas tulisannya Transjakarta? Tapi bukan itu yang kami obrolkan. Kami mengobrolkan bagaimana caranya berpameran di Galeri Soemardja. Agak geli juga sebenernya, direktur Galeri Soemardja namanya juga Ucok, dan gue biasa panggil dia Bang Ucok. Nah, kalau kata Bang dihilangkan, dalam konteks pembicaraan ini, yang akan merespon langsung adalah si Ucok temen gue yang dari ISI ini. Agak merepotkan emang. Tapi nggak apa-apa, karena ada busway lewat yang kontan disoraki “Huuu!!!” karena dia langsung cabut tanpa mengangkut satu penumpang pun. Hahaha, sialan.



Nah, nggak berapa lama setelah si pseudo-bus itu lewat, akhirnya datang bis gandeng yang mengangkut hampir setengah shelter. Dalam hati gue cuma bisa bilang “Sialan! Kenapa cuma bawa setengah shelter?” Akibatnya gue harus mengantri di samping cowok sok jangkung tapi gendut dengan bau keringatnya yang aduhai. Tapi biarin, pasang MP3 Homicide yang bising-bising juga sudah cukup membalaskan dendam gue. Nyahaha. Dan si cowok nampak kesal, mungkin karena dia keki tapi gengsi kalau harus sampai memamerkan kekuatannya di depan pacarnya. Tapi kalau dia mau ngajak bertengkar, ya nggak apa-apa. Bukankah bumbu pertengkaran yang baik akan mempererat ikatan pertemanan? Toh gue juga punya otak buat ngelawan ototnya dia, dan nggak mahir karate juga nggak berarti gue nggak bisa kung-fu. Nah, itu dia sudah kalah poin dari gue, karena itulah kami tidak sampai berkelahi. Walaupun dia sempat mendengus beberapa kali saat gue ganti track ke lagu Padi. Mungkin, karena yang di depannya itu bukan pacarnya, melainkan dia masih Menunggu Sebuah Jawaban (Hey!!!!). Tapi kalaupun benar gue nggak mau tau urusan orang lain, karena orang lain juga nggak pernah ngurusin gue. Toh gue juga memang dari dulu kurus, nggak seperti dia itu, gendut.

Setelah sengit bertengkar dalam pikiran kami masing-masing, dengan saling menghina dan melemparkan strategi, kami pun berbaikan. Kami saling meminta maaf dalam pikiran kami sendiri. Kebetulan bis datang, dan si Ucok dengan lekas mendorong gue masuk.

Dan hari belum berakhir. Masih ada kemungkinan nggak penting yang bisa saja akan terjadi. Sebut saja, seperti ban busway yang pecah mendadak di daerah Senen misalnya.

Bukan cuma gue kok yang nggak suka orang yang bertele-tele. Banyak juga orang yang ngaku begitu tapi omongannya muter-muter kayak keong (Hey!!!!!). Masalahnya, rumah keong itu mengikuti azas golden section (atau apalah itu namanya), makanya dia bisa oke. Mungkin orang yang bertele-tele tapi kalo mukanya kaya rumah keong bisa mendatangkan hoki juga. Nah, kalo gue bukan bertele-tele, tapi jelas-jelas ngelantur dan ngawur. Karena kalo nggak gitu cerita ini akan beres hanya dalam 1 paragraf. Coba liat, sejauh ini kalian sudah baca berapa? Karena kalau dibaca sampai sejauh ini, ceritanya memang nggak penting, tapi yang penting adalah memaknai sesuatu yang nggak penting hingga menjadi (seolah-olah) penting. Kalo boleh meminjam istilah yang pernah dilontarkan temen SMA gue dalam judul film pendeknya, Ignaz a.k.a Didz bersama Radian a.k.a Jawa, maka tulisan ini menjadi suatu Cela Cendekia yang menyenangkan. Setidaknya buat gue.

Ya, jadi ada satu dialog lucu yang terjadi di shelter Mangga Dua. Itu bis yang sama yang sedang gue naikin yang jadi saksi bisu dialog aneh ini. Bis yang sama yang harus berdesakan satu jam hingga akhirnya mau dinaiki. Dasar kuda!

Shelter itu penuh sesak dan sedari sejam yang lalu tidak ada perubahan yang signifikan. Signifikan sih yang datang, tapi yang terangkut dikit. Dan bis berhenti di shelter itu, seperti biasa membuka pintu. Entah formalitas entah apa, pintu langsung ditutup kembali. Ya, jelas-jelas bisnya sudah penuh memang. Mungkin pak supir membuka pintu untuk mempersilakan yang berbaik hati untuk turun di tempat itu dan bergantian dengan penumpang lainnya. Tapi nyatanya tidak. Tapi kalau pakai logika, supir itu agak bodoh juga nampaknya. Kalau saja para tujuan penumpang busway itu cuma shelter Mangga Dua, buat apa pula mereka ngantri sampai sejam dan berdesak-desakan? Dogol. Mungkin si supir penganut aliran eksistensialis yang menganggap orang-orang yang ingin diakui dengan cara iseng bin aneh tersebut masih mungkin hidup sampai sekarang, tepatnya di Jakarta dan sedang liburan di Ancol. Mungkin.

“Ini kami udah nunggu dari sejam yang lalu. Ini ada ibu-ibu bawa bayi, kasihan ini!” Itu ada suara seorang bapak yang gue ga liat mukanya karena gue menghadap ke sisi yang membelakangi shelter dan dengan posisi yang sangat tidak mungkin untuk melihat lebih dari 120 derajat dari sudut pandang normal. Seperti yang dia katakan, dia kesal karena harus menunggu kira-kira satu jam dan harus berbuah kekecewaan pahit tidak terangkut. Pasti dia lelah. Apalagi dia terpaksa harus marah-marah dengan situasi yang seperti ini.

“Oh iya. Bayinya kasihan tuh.” Kata seorang bapak dari dalam bis, posisinya kira-kira di sebelah kiri depan gue. “Tapi ibunya nggak.” Tandasnya lagi dengan intonasi yang cukup keras. “Bayinya biarin masuk aja!” Lanjutnya untuk menutup persoalan. Dan pintu ditutup, tanpa gue tau si bayi jadi masuk (bersama ibunya) atau nggak. Karena selain bis udah penuh sesak, gue juga nggak bisa nengok.

Akhirnya, memang betul, bis yang ini mengalami pecah ban depan kanan di Senen. Hingga harus berhenti 10 meter dari shelter. Karena saking keheranannya gue dan Ucok ketawa-ketawa dan lalu tos menggunakan tangan kanan, seolah kami penyebab semua masalah ini, padahal jelas-jelas kami korban. Si Ucok bersama puluhan penumpang lainnya dengan cepat memutuskan untuk turun di tempat itu lewat pintu darurat. Sedangkan gue dan sisa penumpang lain yang juga terlantar tenang-tenang saja tetap di dalam bis. Dan lalu, betapa beruntungnya gue dengan keputusan itu, karena 2 bis cadangan datang 10 menit setelahnya, dan gue naik ke bis kedua melanjutkan perjalanan transit ke Matraman, lanjut ke Manggarai.

Amin.

Rabu, Juni 30, 2010

“I’m jealous to the whole world”

Ouw yea, Lois Lane mungkin berhak untuk ngemeng kayak gitu. Dan setelah sekian lama (sekitar 12 tahun) sejak terakhir gue nonton film itu, akhirnya gue bisa memahami dan mengerti maksud ucapan doi.

Well, okay! Menurut gue sih, hal itu lucu. Selama ini gue melihat wanita dihadapkan pada kodrat dan kesombongan untuk dipuja-puji. Tapi toh di sisi lain mereka enggan mengakui kalau mereka lemah. Dan, oh, oke, gue belajar satu hal yang pasti tentang tipe wanita kayak gini; gengsi mereka selalu lebih besar dari akal sehat mereka untuk mengatakan yang sejujurnya. Bahwa mereka merasa tidak aman akan banyak hal sepele. They always feel insecure. Apapun itu, perasaan tidak aman-lah yang akhirnya membuat mereka membentuk benteng dan, yah, pada akhirnya mungkin banyak bersikap kontradiktif. Antara perasaan dan ucapan menjadi sangat berbeda, begitu kata para sesepuh.

Tapi, memang banyak wanita cukup tegar dan mampu menghadapinya. Gue tau itu. Tapi mungkin Naga Bonar benar perihal setiap wanita selalu ingin dinaikkan setali, setangguh apapun dia. Takut menyinggung perasaan orang yang akan tersinggung. Oke, gue sudahi yang ini. Hahaha. Lagipula, sudahlah. Wanita benci kalau dibaca pikirannya, walaupun sebetulnya sering kali mereka butuh itu juga.

Antara Lois dengan dunia ini, mana yang lebih penting buat Kal-El? Kehilangan dunia berarti juga kehilangan Lois, tapi untuk menyelamatkan dunia itu berarti menghilangkan Lois dari pikirannya. Beratnya, Lois nggak pernah peduli dan nggak pernah suka sama Clark. Yah, semua orang tahu siapa yang dia suka, walaupun itu bukan berarti seluruh dunia tahu siapa itu Lois Lane. Sebodo.

Dalam kasus yang sama cerita berbeda, gue memahami kata Peter, “This is my gift, this is my curse”. Keberadaan pahlawan super hanya sebuah gambaran ketakutan dan kelemahan kita yang selalu membutuhkan pertolongan. Oh, ya, tapi nggak salah-salah amat kalau itu memang harus terjadi. Toh orang yang lebih kuat memang berkewajiban membantu. Tapi Non, maaf, dalam kasus ini pahlawan super nggak ada bedanya dengan manusia biasa yang punya emosi dan punya keterbatasan. Doi bukan Tuhan, dan gue juga bukan pengkhotbah. Jadi sudahi saja wacana super a’la Mario Teguh ini. Super Mario!

Kalau bukan karena cemen dan manjanya orang, mungkin Lois nggak akan sampe ngomong kaya yang di atas itu. Kenapa? Karena orang pasti udah nggak butuh si manusia baja itu lagi. Tapi mungkin juga, toh karena Lois juga cemen maka Clark suka. Dan bukankah dunia berjalan seperti itu? Hahaha.

Kritik: Sotoy lo Ko!

Respon: Biarin! Gue kan Virgo, ye!

It’s funny to know some things spins off. So then we can learn to live our life to the fullest. Selalu ada kesempatan untuk belajar, tapi selalu saja ada beban untuk membuka mata. Ah, itu sih cuma alasan saja. Yang jelas, maksud gue memang butuh waktu untuk menyadari korelasi antara satu hal dan hal lainnya. Walaupun sekilas berbeda, tapi inspirasi datang dari mana saja. Apa sih?

“Karena menurut pengalamanku, saat kau berada di dasar, satu-satunya jalan tersisa adalah kembali ke atas” – Thaddeus Thatch, Atlantis (kira-kira begitu setelah diterjemahkan).

NB 1: Ngomong-ngomong, kenapa di sepanjang film Superman II isi banyolannya ga penting semua gitu sih?
NB 2: Eh, itu belum termasuk celetukannya Lex Luthor dan bapak-bapak yang tetep nelpon waktu Zod nyemburin badai.

Senin, Maret 01, 2010

Salam Bahasa

Sempat terpikir bagaimana caranya membangun kata-kata yang terdengar keren saat dibacakan dengan menggunakan bahasa indonesia, walaupun notabene itu tidak menggunakan EYD yang baik dan benar. Pemikiran itu mulai muncul sejak gue dan zaldy menahkodai pameran KGB '08 sebagai kurator. Ada pertanyaan yang tersembur dari congor seorang anak, yaitu "Kenapa harus pake bahasa indonesia sih?" Dan gue membalikkan pertanyaan itu dengan premis lain yang berlaku sebagai pertanyaan balasan "Emang lo pikir bahasa inggris lebih keren?"

Maksudnya, dalam dunia institusi memang banyak kata serapan yang digunakan untuk mempersingkat suatu penjelasan. Tapi ketimbang terlalu bertele-tele atau menyuburkan redudansi ngawur, alasan penggunaan kata serapan di era globalisasi ini ternyata lebih banal daripada pemikiran itu sendiri. Nampaknya bahasa inggris memang terdengar lebih keren dan lebih mengglobal kerimbang bahasa indonesia yang terdengar mistis itu. Yah, gue pun akan mundur kalau ditanya apa gue jago dalam menggunakan bahasa indonesia. Gue akan bilang gue cupu. Tapi gue berusaha buat memperbaiki bahasa indonesia gue. Karena toh, sepengamatan gue, bahasa indonesia dengan EYD-nya itu akhirnya nggak bisa berdiri sendiri tanpa bantuan sokongan bahasa lokal, bahasa terminal, bahasa gaul, bahasa serapan, bahasa anarki, dan bahasa politik. Semua sub-bahasa itu memiliki gramatikanya sendiri yang membantu logika bahasa indonesia sehingga ia dapat berdiri dan memiliki sikap layaknya bahasa dunia lainnya. Akui saja bahwa banyak bahasa indonesia yang tidak memiliki padanan kata dalam bahasa inggris. Bukan karena ia bertele-tele, tapi lebih karena sifatnya yang spesifik. Itu belum lagi jika dikawinkan dengan bahasa daerah. Contohnya bahasa jawa memiliki kata "kopet", atau bahasa sunda dengan "tisoledat".

Pernah dengar anggapan orang yang mengatakan bahasa jerman itu maskulin-tegas atau bahasa prancis itu feminin-romantis? Kalau begitu gue berani aja bilang bahasa indonesia itu adaptatif-politis. Seperti bunglon yang mendalangi gerakan non-blok, bahasa indonesia dapat bermanuver dalam banyak sifat. Itu yang membuat dia supel di antara sekian ribu bahasa dunia. Kekayaan ini disebut orang asing dengan istilah lingua franca, itu kalau gue tidak salah menangkap. Toh gue membuat tulisan ini biar kesannya keren dan seperti berpikir.

Tidak banyak yang gue pikirkan memang, tapi membongkar-pasang bahasa indonesia buat gue menjadi sesuatu yang menarik ketimbang menjiplak argumen berbahasa inggris yang singkat. Dan, oh ya, menjiplak bahasa spanyol itu beda cerita, karena toh mata kita tidak terbiasa dengan runut simbol bahasa yang seperti itu. Sampai di sini ada sanggahan?

Kalau tidak, gue lanjutkan tulisan sampah ini lain kali. Itupun kalau ingat.

Senin, Desember 21, 2009

Saatnya TA, Saatnya Berleha-Leha, Saatnya Bercerita


Saat ini gue makan popmi yang komponen monosodium glutamatnya belum tercampur merata. Tapi nggak masalah, kerena toh masih enak-enak saja. Kecuali kalau air-yang-terlalu-banyak dihitung sebagai persoalan.

Pada suatu hari di suatu ketika saat gue sedang tidur dalam senyap, seorang anak kecil menghampiri gue dalam mimpi. Dengan kuda poni dari resin dan pancang carousel (what was that? carousel, phonecell, and michel? another jumble 3 and selsel business?), dengan blekberi di tangan dan messenger di layar. Every feeling to talk is a text. Now you text to talk.

Tapi di sini nggak ada yang salah. Yang salah adalah gimana gue udah nggak bisa berbicara dalam mengungkapkan apa yang gue rasakan. Di saat dunia sudah terlalu berisik, lebih baik gue diam. In the world full of sound, all you need to do is listen. In the world full of noise, all you need to do is move. If the world full of voice, and if you are granted a wish to mute one, whom would you pick?. For the sake of my life I believe you would never pick yours from the entire lines.

Berbicara tentang pameran everything you know about art is wrong. Berbicara tentang semua kesimpang-siuran fungsi seni yang membanal hingga sekedar menjadi hiasan profan. Berbicara tentang intereferensial yang terlalu jemawut dalam setiap catatan. Yang terlalu berakrobat dalam setiap penampakan yang gagal menyampaikan. Catatan kuratorial apa itu? Mencomot berbagai referensi dari apa yang dengan mudahnya dapat kita temui, di mana letak orisinalitasnya? Di mana letak wawasan studi akademisnya? Di mana letak kekuatan jualnya?

Atau jangan-jangan memang seperti itulah tabiat para kurator selama ini? Asal comot dan asal keren. Asal tak banyak orang yang tahu dan bahasanya terlihat seperti wah dan berpendidikan maka hadirlah di situ nilai jual. Entah kenapa pada titik ini kurator lebih terlihat seperti binaragawan ketimbang kuli pena di balik kaca mata gue. Atau nikmati saja keadaan ini, siapa tau akan bermunculan banyak kelatahan-kelatahan lain (dalam bahasa inggris diistilahkan dengan kata "after").

Mungkin yang salah adalah institusi seni yang terlalu lama mengagung-agungkan hukum dan dalil sehingga buku menjadi dewa bagi kaum librarian nekrofilik. Mungkin salah mereka juga kita tidak pernah diajarkan hal baru. Mungkin salah mereka kalau kita hanya boleh lulus atas apa yang sudah pernah dibuat. Mungkin salah mereka juga kalau perasaan dan ego orisinil itu mati. Sebab setiap kali kita merasa orisinil, kita harus kembali berhadapan dengan permasalahan lama di mana kita harus menemukan karya serupa yang sudah pernah dibuat sebelumnya. Seolah berkarya menjadi seperti iuran yang nantinya akan dikocok dalam arisan pameran di galeri-galeri besar yang tidak tahu apa isinya sebelum kita membuka gulungan kertas dan membacanya keras-keras.

Tapi toh saat gue buka Alkitab, di situ Raja Salomo (Nabi Sulaiman, King Solomon) pernah menegaskan bahwa tidak ada yang baru di dunia ini semuanya sia-sia dan semuanya sudah pernah dilakukan dan terus berputar. Yah, bahkan para avant-gardist sudah dibunuh sejak ribuan tahun yang lalu, dalam Kitab Kebijaksanaan yang ditulis sang raja.

Jadi apa yang salah tentang seni dan apa yang membuatnya tampak seperti itu? Apakah seniman tidak pernah tahu apa yang ia kerjakan? Apakah mereka terlalu malas bertanggung jawab atas karya mereka? Atau memang benar selama ini perihal words narrow art? Atau jangan-jangan semua yang kita lihat ini hanya akumulasi permukaan masalah yang kehadirannya seperti gunung es. Atau jangan-jangan semua ini hanya seolah salah. Mungkin semua ini hanya pelatuk yang memicu diskursus selanjutnya, mungkin juga seni memang sudah mati sejak ia dilahirkan dalam kesalahan. Mungkin yang kita lakukan selama ini hanya mengusung keranda mayat seni yang sudah lama mati.

Mungkin seni sudah lama mati bersama tuhan. Mereka mati dikhianati profit, dominasi, dan komodifikasi, dan ekspansi korporasi. Maka sejak itulah seniman bangkit dan berusaha mendekati fungsi tuhan dan menjadi tuhan-tuhan kecil (setidaknya bagi diri mereka sendiri). Masihkan kita merasa perlu untuk menyediakan waktu, menyempatkan diri menyaksikan acara realigi kacangan, yang hanya peduli rating, tapi tak berujung pangkal dalam menyelesaikan masalah dialog macet antar agama di negara ini? Mungkin Zapatista lebih berhasil menciptakan dialog terbuka tanpa narasi yang panjang lebar ketimbang kita yang katanya beragama, beretika, dan cinta damai ini.

Nic, Nic, sini dah. Gue pengen ngomong.

Suatu hari seorang teman pernah datang dan melihat draft catatan kuratorial yang gue buat. Waktu itu gue sadar kalau membuat catatan itu nggak akan berguna banyak, selain hanya menambah ketajaman insting dalam melakukan manuver dan akrobat bahasa. Gue bukannya pengen ngebocorin rahasia kalo temen gue yang ini anaknya labil dan sempet beberapa kali nangis tanpa sebab, tapi apa yang gue pengen sampaikan adalah omongannya. Bahwa dia pernah bertanya "Emang setiap catatan seni harus dibuat kayak gitu ya? Bisa nggak dibuat biar orang awam kayak gue bisa lebih gampang nangkepnya?" Yah, tapi omongan bodoh itu nggak menghasilkan apa-apa selain kebingungan lain yang menyebalkan. Kebingungan untuk menetapkan yang mana yang lebih pantas berada di dalam sorot lampu panggung. Antara permasalahan majas visual atau metafora.

Percayalah, gue memperhatikan dia lebih daripada gue memperhatikan pohon atau omongannya.

Sabtu, Desember 19, 2009

The Unimportant But Somehow Important


  1. mari kita gebrak langit dengan kepalan tangan mengangkasa dan belati terhimpit pada mulut...
  2. dengan beban yang harus secepatnya dilarikan, tenggat waktu yang tak dapat diabaikan, dan ketidakmungkinan untuk mengulang kebebalan...tidak ada lagi yang tersisa untuk disesalkan...
  3. belati terhimpit pada mulut...menghalau gertak gigi, mempersingkat kata, dan merapatkan bahasa...
  4. selamat berjuang, hei teman2 yang akan berpameran dalam waktu dekat ini...saya akan segera menyusul kalian dengan gebrakan selanjutnya!!!...
  5. seperti air beriak tanda batuk berdahak...seperti kacang lupa kulitnya...seperti orang tua lupa, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya...
  6. mau gambar kelinci kenapa jadi kura-kura?...mungkin ini akibat makan udang di balik batu... mau gambar kura-kura dalam perahu, kenapa jadinya malah bahtera rumah tangga?...mungkin nenek moyangku bukan pelaut, mungkin ia petani kacang lupa kulitnya...
  7. ada apa sih dengan peribahasa berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian?...apa sejak jaman nenek moyang udah banyak pemalakan di laut?...
  8. mencoba menggambar kura-kura dalam perahu...kenapa jadinya malah bahtera rumah tangga?...
  9. cuma orang narsis yang selalu bisa melihat ke belakang...itulah alasan mengapa mereka setara dan serupa dengan sopir dan tukang ojek...
  10. mau gambar kelinci kenapa jadi kura-kura?...oh, pantes kelincinya ketiduran pas lomba lari, jadi ga kegambar...
  11. mau beken kaya Ada Band?...gantungkan cita-citamu setinggi langit tujuh bidadari...
  12. apa mending jadi provokator aja?...bisa sekalian merangkap maling teriak maling...
  13. ga enak jadi maling...ga bisa lempar batu sembunyi tangan...tangannya kepanjangan...
  14. pagi-pagi gini enaknya makan udang di balik batu...
  15. good luck lucky bastard!...
  16. artists are freak because they destruct something good in order to make greater work...
  17. both God and I know that you are lying...
  18. you never know that someone is hurt, when you think no one need to know what hurts you...
  19. we don't point at ourselves because we can never see our back...
  20. lho, gue pernah denger dari seorang mertua seniman grafis bahwa "...seniman adalah manusia yang paling dekat dengan Tuhan"...jadi mungkin pernyataan itu ga salah-salah amat...hehehe...God I'm baptized... 0:-D
  21. Tuhan sempat bertanya "Mau jadi apa kamu nanti?"...gue jawab "Mau jadi seperti Engkau"...dan ternyata seperti itulah rasanya menjadi seniman...
  22. yang terdengar hanya suara nafas, degup jantung, dan goresan jarum di atas plat...terima kasih...
  23. dan hanya Tuhan boleh tindas kami, itu pun kalau Ia mau...
  24. pengen lempar sepatu tap-dance ke muka orang-orang yang banyak bacot...
  25. memang cuma etsa yang bisa bikin kulit putih... nb: maaf jika menyinggung para cukilers, sabloners, dan lithographers...
  26. teman2 bilang saya putihan...mungkin karena terlalu lama mendekam di penjara (baca: studio)...
  27. Dijual cepat! Semangat: tipe 45 untuk anda-anda yang sedang TA! Hubungi: xxx6-84040-xxx. Dijamin tokcer...
  28. don't think about a thing when you feel you don't want to...
  29. the easier you find someone, the harder you found them when they dissapear...
  30. nowhere to find when don't want to be found...
  31. google earth: travelling without moving...
  32. "cukup biarkan saya mengklaim seni sebagai jalan satu arah yang dapat membawa saya kepada anda"...
  33. mendrawing lagi!... ada gak ya orang kurang kerjaan yang iseng ngitung jumlah garis di karya gue...dan bener...hahaha...
  34. kalian para kaya dunia hanya sejumput bilangan yang mengais pertolongan kami kaum papa yang telah memahkotai dunia...
  35. threading borderlines by giving you all the things you need (appropriating C.A.J)...
  36. it's a constant wave that turns the lozenges of life to noncombustible zephyr...
  37. terhambat kodrat jengat pada tengat plat laknat tanpa syarat...
  38. ya Tuhan, seandainya ada satu hari yang tenang, saya akan berusaha melakukan 3 pengasaman bertingkat, SEKALIGUS!...
  39. saat kalian lihat apa yang kalian ingin lihat, maka aku akan menjejalkan mata jumawa kalian dengan propaganda penghabisan yang elegan...
  40. hidup seperti tahanan Pulau Buru...saat sakit berlanjut: KOP-ROLL sampai berkeringat...
  41. berkata: "Jangan harap menantang senja kalau tak dapat menyambut pagi!"...
  42. mencalang semiotika kosmetika dan wana nirmana panca indra anak naga di bibir kawah candradimuka...
  43. ulangi kata-kata "Sakral-Profan" di kepala, sebanyak yang anda butuhkan, hingga jadi waras kembali...
  44. your body is a graphic art!...
  45. Nderek Dewi Maria,temtu gengkang manah... Mboten yen kuwatoso, Ibu njangkung tansah... Kanjeng Ratu ing swarga, amba sumarak samya... Sang Dewi...mangestonono...
  46. you MAKE them happen!...
  47. no me chingues!...vete a la chingada!...
  48. Ισχύς μου η Αγάπη του Λαού (Ischys mū i agapi tou laou)...
  49. media nox meridies noster...
  50. let's play hide and seek...first body found will be the dead one...

Minggu, Oktober 18, 2009

Entah Apa

Andaikata begini, lo menonton drama korea dengan bahasa korea dan subtitle bahasa inggris. Pastinya subtitle itu seolah terdengar di kuping, menggantikan omongan bahasa korea yang nggak lo mengerti itu. Dengan intonasi yang tetap terdengar hingga seolah bahasa inggris itu beraksen korea. Di luar permasalahan aktor yang ganteng atau aktris yang cantik, yah kita tahu bahwa ekspresi itu bisa bersifat sangat universal. Hingga seandainya (lagi) subtitle bahasa inggris itu dilenyapkan dari layar, kita tetap tahu perasaan yang ingin disampaikan si aktor dalam perannya.




Oke itu hebat, tapi jangan permasalahkan sinetron indonesia yang jeleknya sebelas-duabelas itu. Kita semua tahu siapa yang bersalah atas kebanalan acara televisi indonesia. Sekali lagi jangan permasalahkan sinetron indonesia dengan akting sampah itu. Yang hanya beramunisikan zoom -in, zoom-out, dan sfx midi 16-bit kacangan. Jangan permasalahkan apa yang ada dalam kepala orang hungaria seandainya mereka menonton sinetron indonesia tanpa subtitle. Karena cukup satu kata, sinetron indonesia tidak layak jadi sumber devisa negara.

Beberapa orang memanfaatkan ambiguitas yang terkandung dalam kata-kata yang akrobatis untuk menjadikan tulisan mereka menarik. Beberapa lainnya cukup senang dengan kebanggan yang dihasilkan. Beberapa orang tidak ingin terlihat bodoh karena dia tidak mengerti apa yang dia tulis. Sayangnya dalam kasus-kasus seperti ini gue jarang mikir gue bakal nulis apa.

Kamis, Juni 25, 2009

Susu Murni Nasional


Kali ini kita berangkat dari satu kata, kebodohan.

Kata temen gue, “Kalo lo make bahasa yang tinggi dan sulit, justru bakal bikin lo terlihat bodoh”.

Nggak merasa setuju tapi mencoba-coba buat setuju (karena gue juga ga begitu suka temen gue yang satu ini), maka ijinkan gue untuk bermanuver dengan bahasa-bahasa akrobatis. Sekedar ingin melihat seberapa keren kebodohan gue. Ebiet G. Ade juga toh pernah menggumamkan tentang manusia yang sering bangga dengan kesalahannya.

Eh, iya, jangan pernah percaya kalo yang gue tulis sebagai judul itu selalu berkaitan dengan isinya. Mungkin iya, tapi lebih sering nggak. Karena beberapa orang percaya, memikirkan judul membuat kita gagap dalam bercerita. Dan kayaknya gue salah satu dari mereka.

Mungkin ada yang nggak setuju dengan kata-kata gue, tapi gue juga nggak peduli. Karena gue nggak pernah maksa mereka untuk peduli jadi buat apa mereka maksa gue peduli pendapat mereka. Apalagi gue nggak tau siapa mereka, jadi buat apa mereka sok tau siapa gue?

Kami nggak beda. Jadi apa yang bikin kami beda?

Nggak ada. Kalaupun ada itu sekedar kelakuan kami untuk melakukan hal yang berbeda dari orang lain.

Nasionalis kah kami?

Siapa yang tau? Raden Saleh Sjarief Boestaman aja masih dipertanyakan soal nasionalismenya. Dia itu orang Indonesia yang terlalu lama di Belanda. Dan kami? Siapa pula kami? Kami orang-orang kelahiran Indonesia dengan budaya campuraduk. Individu multikultur yang banyak disuapi ikon global tanpa logos terjejal. Identitas kami lebih layak untuk dipertanyakan ketimbang angkatan kami yang ikut-ikut memperdebatkan apakah Raden Saleh Sjarief Boestaman nasionalis atau nggak.

Oke, kita mulai lagi tulisan tanpa ujung pangkal ini.

Sebenernya udah dari tadi.

***

Dulu gue nggak suka minum susu, tapi sekarang, jangan tanya. Nah, cerita satu ini adalah pengalaman di saat gue masih labil, masih bersikeras bilang ga’ doyan susu tapi tetep berangkat sekolah dengan berat hati kalo pagi nggak minum.

Kelas 3 SD, rumah lama gue dipake juga sebagai tempat kost khusus cewe. Kebanyakan yang nge-kost tuh pengajar di ILP (jadi tau kan asal muasalnya bahasa Inggris gue yang amburadul ini?). Dan suatu waktu yang nge-kost bukan orang Indonesia pengajar bahasa Inggris, tapi orang Amerika berbahasa Inggris belajar Indonesia.

Suatu pagi sebelum berangkat sekolah, gelas susu gue udah kosong padahal belum sempet gue minum. Ngeliat si bule berdiri di depan pintu halaman, bikin gue berprasangka ke doi. Dengan yakinnya gue nanya apa doi yang minum tuh susu gue, dan doi bilang nggak. Gue certain masalah barusan ke nyokap gue, eh malah gue yang dimarahin. Nggak sopan katanya. Tapi kalo dipikir-pikir mending tanya langsung daripada mendem gondok ternyata salah orang. Tapi itulah mungkin budaya éwuh pekéwuh a la Jawa.

***

Ngomong-ngomong soal rumah gue yang dulu, ada satu cewe yang paling awet nge-kost di sana, namanya Dianti, alias DJ. DJ bukan profesinya dia, cuma nama panggilan. Soalnya tanda-tangannya kalo diliat sekilas, kebaca kayak DJ. Ga tau betah atau males, yang jelas dia baru memutuskan untuk pindah waktu rumah itu dipugar. Yang tentunya gue sekeluarga juga harus ikut pindah ke rumah gue yang sekarang ini. Yah, toh itupun juga bukan rumah keluarga gue.

Mbak DJ ini orangnya rame, mau jam 11 malem juga dia masih aja rame. Nggak ada orang dia juga tetep rame. Waktu henpon blom se-bérécét sekarang, tangga besi di samping kamar gue selalu bergemuruh setiap kali nyokap habis teriak “DJ!”. Apapun itu lah, tapi heran, kalo udah jam 8 biasanya tiap kali telpon rumah bunyi, selalu lanjutannya teriakan, “DJ!”. Kalo sekarang dipikir-pikir lucu juga kalo didenger sama tetangga. Mungkin salah satu dari mereka dulu pernah ada yang komentar, “Wah, keluarga si Koko okem betul yak!”.

Gue sering pinjem komik-komik Misurind jadul punya dia. Dari macem-macem judl yang gue pinjem, yang paling gue inget ya Hoem-Pa-Pa, komik paling tolol, tentang jagoan Indian bongsor (kayaknya sih suku Mohican) yang temenan sama orang Amerika. Detil ceritanya gue lupa, tapi kalo dibandingin sama Asterix & Obelix, Hoem-Pa-Pa lebih ngocok. Bertaburan panel adegan nggak penting, seolah ketidak pentingan itu wajar. Terselip di antara detil latar, ekspresi, ucapan, tingkah laku, hingga plot cerita. Like this!

Punya pengajar les bahasa Inggris di rumah = punya game-objective’s translator, apalagi kalo RPG. Haha. Gue emang bodoh dalam hal memanfaatkan potensi orang secara maksimal, sekaligus paling pinter mengerjakan hal-hal ga penting.

Nah, sekarang gue udah kuliah, dan dia sudah menikah. Selamat ya Mbak, tahniah kalo kata orang malingsiah.

***

Dan tadi malem gue ngimpi keren. Di mimpi itu gue mainin bagian drum dari suatu lagu pake sendok dan garpu plastik diketokin di meja. Masuk ke bagian synth ada Cadut, pake (semacem?) kibor biru kecil dari jelly dengan tuts transparan warna-warni. Di bagian vokal ada Danu (yang ketua angkatan), tapi dia nggak nyanyi vokal itu keluar dari buku dongeng buat anak kecil yang dia bawa, yang kalo dipencet ada suaranya. Anak-anak yang lain muncul satu-satu dari tirai hitam dengan hiasan kain emas bermotif di sekeliling kami, trus ikutan képrok, foto-foto, nyanyi, joget. Kobé lah pokokna mah.

Bingung?

Namanya juga mimpi.

Masuk penghujung lagu, gue mulai sadar. Dan waktu lahnya beres saat itulah gue 90% bangun. Aduh, sial. Gue liat komputer gue dan di Winamp gue buka file info lagu itu karena mata gue masih burem. Trus gue berharap tidur lagi, lanjut mainin lagu berikutnya. Tapi ternyata nggak bisa. Sial.

Coba cari albumnya Flaming Lips - Yoshimi Battles the Pink Robots trek nomer 7, Are You a Hypnotist. Udah? Itu lagu yang masuk ke mimpi gue. Dan sebenernya semua suara di situ produk synth semua. Jadi aneh juga kalo gue main drum. Lebih anehnya lagi, lagu aslinya sama apa yang gue inget dalam mimpi sama persis (kecuali di bagian fade in sebelum reverb drum di awal) termasuk bagian nada sumbang yang di mainin Cadut atau roll aneh yang gue mainin. Semua yang bisa gue inget, bahkan 12/12 (udah nggak 11/12 lagi).

Herannya, di mimpi kayaknya beneran kami yang mainin. Visual sama beat itu 100% klop. Roll sama reverb di bagian drum nyambungnya edan. Kerasa kaya emang suara itu muncul karena gue mainin, ga kerasa kaya lagi denger suara spiker komputer dan terus kita berusaha nyesuain beatnya. Kayak kita bisa ngeramalin beat 2-3 detik di depan. Freak.

Jujur aja gue nggak banyak melakukan akrobat bahasa. Tapi apa kalian sudah merasa bodoh?

Jumat, Juni 12, 2009

Kilometer Tanpa Ujung di Titik Nol

Saya tidak tahu sebanyak apa orang yang menganggap saya kawan.
Saya tidak peduli kalian peduli pada saya atau tidak sama sekali.
Tapi saya mengkoptasi kalian kawan saya, saat kalian peduli pada sesama kalian.

Saya tidak mengenal politik tapi saya inginkan revolusi.
Saya tidak peduli apa kalian mengenal politik atau tidak sama sekali.
Tapi saya yakin revolusi untuk membenahi dunia ada bersama tiap kebaikan yang kita berikan.

Saya bukan pejuang dan hanya sanggup bermimpi.
Saya tidak juga memaksakan mimpi saya pada kalian.
Tapi ternyata hal itu menjadikan diri saya bermanifes dalam pikiran kalian.

Saya tidak dapat banyak bicara tapi saya bisa tersenyum.
Saya tidak keberatan jika memang kalian pemurung atau pencemburu.
Tapi kalian pasti lebih memilih untuk membeli senyuman saya daripada kepalan tangan mereka.

Saya tidak peduli kalian memikirkan saya atau tidak.
Saya tidak membutuhkan eksistensi seperti itu.
Tapi banyak hal baik dimulai dari satu pikiran baik dan saya sedang bernyanyi di dalamnya.

Saya malas mengakuisisi konklusi dalam tulisan ini.
Saya juga tidak berniat menjastifikasi nilai moral apapun.
Tapi sepertinya kalian akan kembali pada judul untuk menemukan apa tujuan saya.

Nasi Goreng Aneh...

Setelah menurunkan karya-karya pameran ArtProprietor dari galeri C.M.N.K; gue, Magi, Majong, Danuh, plus Aul makan di kedai (kedai~, bahasa taun kapan nih? hahaha!) Rupa Rasa, Cigadung. Danuh, Magi, Majong milih nasi goreng oriental. Gak mau dibilang sama, gue minta nasi goreng nanas. Tapi Aul keburu dateng dan mesen nasi goreng nanas juga.

Shit!

Makan dengan sisa dana yang kami terima. Oke, itu baru yahud. Gak perlu Sushi Tei, karena kami tahu itu mahal.

Kembali ke mobil saat perut sudah kenyang. Apa yang akan kami bahas malam ini? Nggak ada? Nggak juga. Ternyata kami membahas pacar teman kami yang tidak lain masih teman kami juga. Bukan, bukan masalah dunia ini sempit, bukan juga teman kami terlalu banyak. Bahkan salah kalau pertemanan ini efek jejaring sosial serupa fesbuk, plurk, twitter, atau apapun itu namanya.

Intinya mantan dari pacar teman kami itu kecewa berat setelah mantannya jadian lagi. Perlu diketahui mantan pacar teman kami itu bukan teman kami, tapi kami hanya mendengar kabar, dan sekarang gue certain buat kalian. Bingung dengan logika bahasa gue? Oke, gue nggak peduli.

Si mantan diputusin gara-gara nggak seru (ah, alasan apaan tuh?). Si mantan terlalu sabar ceritanya. Dan si pacar baru emang nggak bisa dibilang baik-baik juga sih. Tuk-tuk berceletuk, kami mulai angkat bicara saling menimpali, hingga:

A: “Jadi cowo terlalu sabar, diputusin gara-gara nggak seru.”
B: “Sulit ya?”
A: “Jadi cowok urakan diputusin karena nggak pernah perhatian.”
C: “Sepakat!”
A: “Jadi cowok ganteng, ada selingkuhan.”
C: “Hehehe.”
A: “Blah! Cewe bilang cowo susah dimengerti.”
B: “Begitu pun sebaliknya.”
C: “Cowo bilang cewe susah dimengerti.”
A: “Tapi kalo cowo udah frustrasi, cowo jadi bilang cowo susah dimengerti.”

Lalu kami tertawa merespon kata-kata barusan. Kata-kata yang mungkin kalian nggak paham di bagian mana lucunya. Yah, memang nggak lucu. Tapi satir.

Sabtu, Juni 06, 2009

Tertawa Harusnya Membudaya, Bukan Sesuatu Yang Terjadi Karena Dipaksakan, Apalagi Garing.

Itu Avant-Propos yang merangkap judul.

Badan meriang karena kebanyakan begadang. Hari ini gue ketiduran hampir sebelas jam. Dan bukan ketiduran lagi pastinya. Rencana mau balik ke kosan dan menikmati malam. Biar komputer sedang rusak, tapi yang penting bisa menyemarakkan kasur yang menurut gue paling nyaman itu.

Baru banget gue bangun tidur Iqi sms. Ujung-ujungnya ya sms gue pada jam 18:36:23 tertanggal 6 Juni 2009, yang berbunyi:
Oh, nitip makanan apapun lah Qi, yg ptg nasi. Tnx bgt.

Ke toilet, pas balik ketemu Bonggal, ngobrollah kita. Kebetulan gue lagi masak air maka gue tawarin dia kopi, tapi dia nggak mau. Jadinya gue tawarin dia susu, dan dia mau. Ya, sebaiknya anak grafis memang selalu sedia susu, karena menetralisir atau seenggaknya mengurangi racun yang masuk ke tubuh. Ah, menunggu air mendidih, gue ngeluarin gelas dari loker, tak lupa sambil kami mengobrol dengan kesibukan sampingannya sendiri.

Menurut takaran di pouch susu itu, satu pouch bisa untuk 5 gelas susu, tapi gue rasa gue dan Bonggal agak sedikit serakah. Dua gelas untuk kami berdua dan apa yang tersisa hanya tinggal sekitar 1/5 volume awal.

Air dituang. Diaduk. Tapi nggak bisa langsung diminum. Nyante lah. Lima menit kemudian: "Wah, bwajingan 'i! Nduweku manis banget 'e. Yen aku we semene wis manis opo meneh sing kowe."

Itu dia Bonggal. Apa yang dia maksud adalah, susu yang dia buat itu udah manis banget (jelas, volume air dengan susu aja nggak sepadan), apalagi punya gue. Yang tentu saja lebih banyak dari dia. Tapi, iyakah?

"Hmm, enak."

"Wah, 'po iyo? Wah, yen aku pancen 'ra seneng yen legi banget. Mbleneg!"

Nggak lama Iqi datang. Ternyata Bonggal pun menitip makanan. Gue bayar, Bonggal bayar, Iqi ngasih kembalian, dan makanlah kita. Tidak lama Magi datang dan makan pula dia. Kami makan sambil lagi-lagi tertawa, menertawakan diri sendiri dan orang lain. Hari ini jarang ditemukan orang tertawa, jadi mumpung sempat kami yang menertawakan mereka, tertawa untuk mereka, dan tertawa pada mereka.

Dan waktu gue liat note kapur yang gue tinggalin kemarin, ternyata bunyinya udah berubah, dari yang tadinya:

Boleh gagal tapi jangan lupa dibersihin lagi! Jangan kebiasaan nyisain tinta!

menjadi

Boleh gagal tapi jangan lupa dibersihin lagi! Jangan kebiasaan nyisain cinta!

Oke juga tuh...

Jangan paksa kami melakukan hal yang akan kami sesali.
Karena setiap detik dalam hidup ini merupakan garis demarkasi.

Kamis, Juni 04, 2009

Mereduksi Kebosanan

Menulis lagi.

Oke, apa yang anda, eh, maaf, elo harapkan hari ini? Gue mengharapkan hari ini berjalan lucu. Ha. Sebenarnya jujur aje dah, gue punya tugas kritik seni yang harus dikerjain, tapi setelah 3 jam nggak jelas di depan komputer, gue memilih untuk onlen dan menggampar dunia maya. Lalu, voila! Nikmati saja.

Apa yang lo pikirkan kalo menghadapi kata PAPAN KENYATAAN? Tadi malem Iqi nanya itu ke gue, Danuh, Arif, dan Aul. Di sela-sela tawa sebagai pertanda ketidakseriusan kami dalam mendisplay pameran di CMNK untuk malam ini.

Jawaban gue? Papan MDF buat alas gambar.
Danuh? Papan skor pertandingan sepak bola.
Arif? Arif nggak jawab, keburu tua, jadi akhirnya gue dan Danuh yang mengutarakan isi hati Arif untuk menjawab pertanyaan ini. Suatu hal yang tidak akan pernah sempat ia sampaikan sampai akhir hayatnya. Tenang Rip, kami masih peduli padamu sampai kapan-kapan.
Aul? Gue lagi di WC waktu Aul ngejawab. Bukannya Aul nggak penting, tapi apa yang udah berada di ujung tanduk adalah yang paling penting.

Lalu apa sebenarnya makna papan kenyataan itu? Ternyata menurut cerita Iqi, itu adalah bahasa Malingsia untuk papan pengumuman. Astaga! Dan mulailah kami kembali mengigau.

"Sekolah di Sekolah Menengah Nyata."
"Periksa ke klinik dokter nyata."
"Jadi kita harus naik angkutan nyata."
"Hidup di dunia umum."
"Hal-hal nyata dan tak asing lagi."

Ya, ya. Keumumannya kami memang tertawa dengan tidak jelas tadi malam.

Rabu, Mei 20, 2009

Garis Demarkasi

Mengisi kekosongan ruang dan waktu di kepala. Lalu setelah penuh membuangnya. Dan apa yang gue lakukan sekarang adalah membuang sedikit dari kepenuhan itu.

Setelah beberapa hari belakangan ini gue skip beberapa detik dari detak jantung normal gue. Yeah, gue merasakan gue masih hidup. Ada akibat dan ada sebab. Maksud gue, gue sendiri nggak tau apa yang lagi gue pikirin. Ada sih, tapi...

Di sela-sela kegelisahan TA yang gue rasakan (entah itu beneran gelisah atau beneran males) gue nggak menemukan satu saat terkecilpun dalam hitungan nanosekon untuk menghingar-bingarkan kepala ini dengan medium distorsi lain.

Setiap orang ingin berbicara. Setiap orang butuh bicara, dan apa yang gue tulis di sini sekarang emang merupakan produk pikiran dengan justifikasi pribadi. Jebolan paragraf berlabel ego, mungkin. Nggak bener-bener jebolan, karena ada hal-hal yang emang harus ditahan untuk tidak dikeluarkan. Hal-hal personal yang nggak akan dipahami orang lain. Dan jika orang lain bertanya dan memberikan argumen seolah hal-hal pribadi tersebut adalah konsep dan harus dilacak kebenarannya seperti menggali liang kubur pada teritori literatural lawakan. Katakan saja "fuck you!" pada mereka tanpa perlu mengacungkan jari tengah. Oke, mungkin pendapat gue ini salah, tapi gue rasa juga nggak terlalu salah. Coba pikirkan, kalo lo memiliki satu masalah, mungkinkah lo ngebiarin semua pendapat masuk tanpa tersaring seolah semua itu penyelesaian?

Jadi gue nulis apa?

Tau...

Sudah tenggat waktu dan beberapa karya harus gue beresin. Titipan kepentingan orang-orang yang berkepentingan, pada koptasi modernisme yang menghadirkan kebutuhan pribadi yang tidak dapat dibantah. Mereka "autis". Dan lalu gue yang mengangkat mereka menjadi selebritas baru. Nggak bener-benar selebritas, karena seperti program sejenis Cek en Ricek, setiap selebriti digoreng dahulu dalam minyak "kasus". Baru setelah itu mereka dilemparkan pada publik. Seolah mereka harus bertanggung jawab pada dunia yang menyaksikan mereka, sadar atau tidak, atas "kesalahan" yang mereka lakukan.

Maka, siapa penjahatnya? Hahaha, tidak ada penjahat yang menjadi penjahat untuk menciptakan kebaikan. Mungkin karena saat seseorang mengangkat topiknya dari kesalahan orang lain, dia menjadi penjahat. Atau mungkin saat satu jari kita menunjuk pada orang lain, tiga jari yang lain mengacung pada diri kita, dan jari yang lain menghujam entah siapa dan kemana, menciptakan korban berikutnya. Perjalanan panjang rantai penyaliban yang tak dapat kita koyak. Apapun filosofinya, keadaan ini tanpa solusi.

ketika 145 menjadi embrio untuk memori yang memuakkan, maka mereka tidak lagi dapat dimaknai sebagai suatu angka. Sama saja seperti Re, lalu naik menjadi Do pada oktaf ke dua dan turun satu not dalam dua ketukan berikutnya. Tidak ada lagi makna pada ringtone pentatonik.




Senin, Januari 26, 2009

Keajaiban (keanehan) fesbuk II

Membuka-buka internet lagi. Mencari referensi. Nah loh, apa tuh. Angka satu di balon merah pada pojok kanan bawah. Ha. Calon ngaco nih halaman.

Jadi males nulis. Kenapa ya? Mungkin karena di luar sedang hujan. Eh, Beruang kan berhibernasi lho kalo musim dingin. Jadi karena gue juga mau beruang, gue sewajarnya harus berhibernasi di musim hujan. Hmm.

Keajaiban (keanehan) fesbuk I

Setelah kesekian kalinya mengutak-atik fesbuk akhirnya gue ngerti kenapa jaringan pertemanan di dunia ini mengalahkan frenster, atau multiplai . Yah, masalah orang-orang umay kita kesampingkan lah. Rahasianya adalah sistem tabulator (tab) yang bikin pemuatan konten di web ini lebih cepat daripada web kebanyakan. Dibilang minimal nggak juga, tapi efisien iya.

Pemilihan warna dasar biru putih yang khas kayaknya juga ngaruh. Nggak akan bikin orang jadi ngoyo atau gimana. Lucunya, warna dasar yang sampe sekarang blom bisa dikostumisasi secara personal ini membuat fesbuk terasa lebih segar bin elegan buat kebanyakan orang. Lebih dari sekali gue denger anekdot yang berbunyi "Ya kalo buat kita yang udah gede mah pake fesbuk aja, frenster udah aja buat bocah-bocah yang lagi belajar gaul pake html." Lha?

Asiknya lagi, ada sistem notification pada setiap tab atau jendela fesbuk. Jadi tiap ada yang ngasih konten baru yang punya hubungan sama kita, statusnya bakalan muncul di notification itu. Misalnya gue ngasih komentar di foto temen, temen yang punya foto itu bakal dapat pemberitahuan. Dan kalo habis itu dia nulis komentar di foto yang sama, gue juga bakalan dikasih tau.

Yah, semua orang yang make fesbuk mah nggak akan heran sama hal ini. Tapi, banyak yang nggak sadar kalo hal ini sering dimanfaatkan sebagai ajang nyampah (dasar umay!). Sistem quick reload pada notification tab ini juga bisa berdampak panjang pada tali persahabatan anda. Haha. Bayangkan anda dan teman anda sedang lula, namun posisi sejauh dari batukaras ke rancaekek. Di masa lula itu secara sengaja anda menulis komentar di status teman anda, yang dibalas cepat oleh teman anda segera setelah ia menerima pemberitahuan. Premisnya, anda dan dia adalah teman bebuyutan yang tidak tahu tempat untuk bercanda serta tidak paham bagaimana cara kerja logika. Misalnya, klik contoh di kanan ini:

Tulisan ini nggak dimaksudkan buat menghina atau memuji salah satu penyedia layanan yang bersangkutan lho, tapi cuma review. Karena toh gue nggak dapet royalti apa-apa dari nulis ini. Tapi seandainya tetap merasa terhina, silahkan anda yang bersangkutan periksa ke diri sendiri, apa anda pantas merasa terhina ataukah anda sendiri yang terlalu banyak dosa.

Akhir kata, walaupun gue juga tau ini kata yang aneh untuk menutup tulisan, Gong Xi Fat Choi! Dan khusus buat alumni Gonzaga dan FSRD-ITB, Gong Xi Fat Cuiy!

Sabtu, Januari 24, 2009

Tipuan mata

Ada yang salah dengan saya? eh salah, gue. Nah, itu kesalahan pertama. kesalahan berikutnya bisa jadi ada pada postingan ini. Kenapa? Nggak kenapa-napa juga sebenernya. Tapi karena gue orang yang suka cari-cari masalah, akibatnya ya gini.

Subuh jam 2:32am tadi, gue nyari makan ke Warung Bapak Gisin di depan kampus. Permasalahannya adalah nama penjual warung itu bukan Gisin, melainkan Charmin (baca dengan bahasa Indonesia berlogat Jawa). Tapi itu tidak menjadi masalah, karena kalau kita menghina-hina Pak Gisin di warung itu, tidak ada yang marah.

Gue pesen nasi goreng pedes (bukan pedas) satu setengah porsi, ya satu setengah, soalnya porsi Pak Gisin pelit. Jun pesen capcay pake telor, Molen pesen ayam goreng nggak pake lama, Wing minta mie goreng walaupun nantinya dia harus membayar juga. Berhubung Pak Gisin yang mengaku-ngaku bernama Pak Charmin itu sudah cukup berumur, maka kami tinggal dia di warungnya untuk memasak. Sedangkan kami yang masih muda pergi ke CK. Itu bukan berarti kami sombong, tapi Pak Gisin memang harus bekerja demi menafkahi keluarganya.

Di CK kami disambut dingin. Bandung terasa masih dingin diguyur hujan yang sekarang menjadi irit, tapi kios waralaba itu masih saja memasang AC. Mungkin bukan karena pemiliknya tolol, tapi biar sapaan selamat malam dari dua pegawainya malam itu terasa hangat. Sayang kedua pegawai itu laki-laki, dan tidak ada yang mengaku homo di antara kami berempat, maaf saja kalau kami acuh tak acuh.

Beres urusan kami di CK, kami kembali menuju warung si Bapak tanpa identitas yang jelas itu. Kami tidak menemukan masalah saat menyebrang jalan, mungkin karena kami sudah dewasa dan bisa menjaga diri sendiri.

"Dasar orang Indonesia, nyebrang bukan di sebra kros." Kata gue sambil tetap menyebrang. "Coba di Jepang. Huh!" Perjalanan berlanjut. "Ini lagi, bocah dugem! Bukan tempat parkir malah parkir! Itu lagi! Bukan tukang parkir sok-sok ngasih tempat parkir!"

"Haha." Wing membalas.

"Tapi cewek itu aneh ya?" Kata gue tanpa bermaksud nanya.

"Kenapa?" Wing mencari tahu.

"Bukan musim panas pake hot pants malam pula."

"Hmm."

Mendekati belokan Jalan Ganeca. "Aduh!" Mobil sialan berlampu xenon tiba-tiba melintas. Bukan karena cahayanya mendukung proses global warming yang berdampak pada berkurangnya populasi pinguin di antartika. Tapi karena cahayanya membuat bayangan tajam yang menghalangi pandangan di troroar berlumpur itu hingga gue nggak nyadar kalau ada kubangan air di sana. "Sialan!"

Kecil kemungkinan adanya kubangan di trotoar itu diakibatkan oleh kelalaian Dada Rosada yang terlalu asik membangun proyek kapitalis ini-itu. Tapi bisa jadi hutan Babakan Siliwangi yang semakin sedikit jumlah tumbuhannya mengakibatkan air yang gagal diresap tumbuhan menjadi tergenang di sana.

Akhirnya setelah menunggu beberapa sesaat kemudian, kami kembali dengan membawa makanan di kantong plastik untuk dimakan di kampus. Menggunakan kantong plastik bukan berarti kami menyatakan perang kepada anak-anak Planologi yang terkenal dengan kampanye anti plastic-bag mereka. Justru seharusnya mereka yang lebih baik mengumumkan perang terlebih dahulu kepada kami, berhubung kami iseng-iseng mengganggu mereka sewaktu acara wisudaan Oktober kemarin. Penyebabnya bukan karena mereka jelek, tapi karena kami memang anak-anak nakal. Cukup nakal mungkin untuk bilang mereka jelek.

Oke cerita berakhir di sini.

Mata anda sudah merasa tertipu? Kalau iya, coba periksakan diri anda ke psikolog. Bisa jadi jiwa anda sedang terguncang. Kalau anda bingung, bisa dipastikan anda bukan mahasiswa seni rupa tingkat akhir dan anda masih waras.