Tampilkan postingan dengan label kerjaan malam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kerjaan malam. Tampilkan semua postingan

Jumat, Juli 02, 2010

1 Juli 2010

Agnes Monica ulang tahun, tapi bukan itu yang mau gue tulis.

Quickview: nggak perlu, yang jelas ini bakalan panjang.

Sekedar kata pengantar yang sama sekali nggak ringkas.

Jam 6 sore gue memutuskan untuk ke studio (baca: lapak) Roni, temen residensi gue dari ISI. Seperti yang sering kita dengar dari para bhiksu, “Isi adalah kosong, kosong adalah isi”. Tapi Roni tidak beragama Buddha. Itu Trisno yang beragama Buddha, dan herannya dia juga dari ISI, tapi dia juga peserta residensi.

Sebelum cerita berlanjut, mungkin ada yang, walaupun ingin bertanya, tapi merasa hidupnya akan menjadi sia-sia jika harus sampai mengacungkan jari. Kenapa studio dalam tulisan ini harus dibaca lapak? Jawabannya tidak lain tidak bukan adalah karena memang lebih mirip lapak ketimbang studio.

Nah, tidak seperti yang kalian kira, gue ke studio Roni bukan untuk bicara dengan Roni. Gue ke sana justru karena tidak ada kepentingan apa-apa dengan Roni. Mungkin kalian yang membaca keheranan dengan tingkah laku gue, tapi gue pribadi udah nggak heran lagi dengan kalian yang begitu mudahnya keheranan.

Sampai di sana ternyata ada Ucok, itu temen dari ISI juga. Jadi kami bertiga di studio yang mirip lapak itu. Iqi a.k.a Chipow, Patriot a.k.a Mukmin a.k.a Majong, Luthfi a.k.a Bala, dan Walid sudah terlebih dahulu berpulang mendahului kami. Dua yang disebut pertama temen seangkatan gue dari ITB, dua sisanya dari IKJ. Jangan tanya gue mereka semua dari studio mana, tanya aja mereka kenapa milih studio itu. Karena dengan cara itu, kalian juga akan mendengarkan curhat mereka tentang dunia seni yang mereka geluti selama ini. Apa gunanya kalian bertanya mereka dari studio mana kalau kalian tidak tahu apa yang mereka kerjakan di studio? Atau jangan-jangan mereka memang tidak pernah bekerja di studio?

Nggak lebih dari semenit gue sampai sana, Ucok menerima telefon.

“Halo!” katanya. Tapi kata-kata selanjutnya gak gue pedulikan, karena buat apa mengurusi urusan orang lain? Mereka toh sudah dewasa dan sudah bisa memutuskan masa depan mereka sendiri. Buktinya, toh mereka bisa jadi sarjana. Dan dari telefon itulah cerita berkembang, walaupun sama sekali nggak wangi.

“Eh!” Tegur Ucok, “Kau jadi balik sekarang?”

“Tar lagi. Napa? Lo mo cabut sekarang juga emangnya?”

“Iya. Aku harus ke Slipi. Males macetnya kalau kemalaman.” Ya, dari namanya kalian pasti tahu gimana cara dia ngomong kata males dan macet. Tapi kalau kalian ekspatriat, mungkin kalian tidak bisa mengimajinasikan apalagi menangkap apa yang saya maksud di sini.

Selanjutnya, gue akan melanjutkan kelanjutan cerita berlanjut ini sampai situ.

Pembicaraan berlanjut pada kesepakatan kami berangkat bareng setelah Ucok terlebih dahulu kencing di toilet umum yang disediakan gratis di sana. Dan walaupun dialog antara gue dan Ucok terjadi di studio Roni, tapi satu-satunya pembicaraan dengan Roni yang gue inget adalah saat gue mau cabut dan kami saling mengingatkan untuk berhati-hati. Entah apa maksudnya, mungkin sudah tradisi orang Jawa untuk mengatakan hal itu. Itu si Roni kalau tidak salah, berarti benar, dari Jepara.

Kami berjalan kaki hingga shelter bus Gondola dan menunggu bis gratisan yang melewati jalur arah barat. Bis pergi di saat kami masih sekitar 20 meter dari shelter. Tapi bis itu bukanlah satu-satunya di Ancol, seperti juga tidak cuma satu perempuan di dunia ini (Hey!). Maka kami tetap berjalan dengan langkah yakin. Jelas keyakinan kami tidak bertepuk sebelah tangan, karena setelah berdiri lama akhirnya bis yang lain datang. Kami masuk berebutan dan saling berdesakan. Tapi untung kami kebetulan pria lajang yang belum terikat perempuan manapun, jadi kalau bersenggolan tidak ada yang melarang (Hey!!). Kalaupun itu bukan muhrimnya tapi toh nggak ada yang protes. Karena bagaimana pun juga, sekedar bersenggolan di bis gratisan yang penuh sesak itu tidaklah bijaksana kalau sampai harus dibilang haram. Memang tak kenal maka tak sayang, tapi bukan berarti harus bermusuhan saat di naik bis berbarengan. Apalagi jika harus sampai pukul-pukulan. Sayangnya pertemanan pun sering pula dijadikan alasan untuk melambaikan tangan karena takut terdampar di tengah jalan (Hey!!!).

Tantangan selanjutnya, sekumpulan bau amburadul yang entah apa saja.

Asal tau saja, saat ini masih musim liburan anak sekolah. Herannya kenapa gue dan Ucok yang udah sarjana malah kena imbasnya. Buktinya, turun dari bis gratisan wara-wiri itu kami harus bersiap pula menghadapi antrian di bridge busway shelter. Waw! Itu istilah baru.

Gue kasih Rp 5.500,- ke mbak-mbak penjual karcis. Maksudnya biar dikasih kembalian Rp 2.000,- karena nanti gue naik bis Metro Mini nomer 62 dengan tarif segitu. Biar praktis. Uang kembalian dan karcis gue masukin kantong, dan karcis gue kasih ke petugas setelah gue kencing. Mungkin petugas itu tadinya pemarah, tapi kemudian dengan merobek-robek karcis dia menemukan ketenangan yang selama ini dia cari. Mungkin bagi anda yang pemarah, menjadi petugas penyobek karcis busway bisa menjadi pilihan terapi yang menarik.

Gue dan Ucok ngobrol sembari menunggu busway yang entah di mana supirnya. Heran, kenapa sebutannya busway padahal di badan bis jelas-jelas tulisannya Transjakarta? Tapi bukan itu yang kami obrolkan. Kami mengobrolkan bagaimana caranya berpameran di Galeri Soemardja. Agak geli juga sebenernya, direktur Galeri Soemardja namanya juga Ucok, dan gue biasa panggil dia Bang Ucok. Nah, kalau kata Bang dihilangkan, dalam konteks pembicaraan ini, yang akan merespon langsung adalah si Ucok temen gue yang dari ISI ini. Agak merepotkan emang. Tapi nggak apa-apa, karena ada busway lewat yang kontan disoraki “Huuu!!!” karena dia langsung cabut tanpa mengangkut satu penumpang pun. Hahaha, sialan.



Nah, nggak berapa lama setelah si pseudo-bus itu lewat, akhirnya datang bis gandeng yang mengangkut hampir setengah shelter. Dalam hati gue cuma bisa bilang “Sialan! Kenapa cuma bawa setengah shelter?” Akibatnya gue harus mengantri di samping cowok sok jangkung tapi gendut dengan bau keringatnya yang aduhai. Tapi biarin, pasang MP3 Homicide yang bising-bising juga sudah cukup membalaskan dendam gue. Nyahaha. Dan si cowok nampak kesal, mungkin karena dia keki tapi gengsi kalau harus sampai memamerkan kekuatannya di depan pacarnya. Tapi kalau dia mau ngajak bertengkar, ya nggak apa-apa. Bukankah bumbu pertengkaran yang baik akan mempererat ikatan pertemanan? Toh gue juga punya otak buat ngelawan ototnya dia, dan nggak mahir karate juga nggak berarti gue nggak bisa kung-fu. Nah, itu dia sudah kalah poin dari gue, karena itulah kami tidak sampai berkelahi. Walaupun dia sempat mendengus beberapa kali saat gue ganti track ke lagu Padi. Mungkin, karena yang di depannya itu bukan pacarnya, melainkan dia masih Menunggu Sebuah Jawaban (Hey!!!!). Tapi kalaupun benar gue nggak mau tau urusan orang lain, karena orang lain juga nggak pernah ngurusin gue. Toh gue juga memang dari dulu kurus, nggak seperti dia itu, gendut.

Setelah sengit bertengkar dalam pikiran kami masing-masing, dengan saling menghina dan melemparkan strategi, kami pun berbaikan. Kami saling meminta maaf dalam pikiran kami sendiri. Kebetulan bis datang, dan si Ucok dengan lekas mendorong gue masuk.

Dan hari belum berakhir. Masih ada kemungkinan nggak penting yang bisa saja akan terjadi. Sebut saja, seperti ban busway yang pecah mendadak di daerah Senen misalnya.

Bukan cuma gue kok yang nggak suka orang yang bertele-tele. Banyak juga orang yang ngaku begitu tapi omongannya muter-muter kayak keong (Hey!!!!!). Masalahnya, rumah keong itu mengikuti azas golden section (atau apalah itu namanya), makanya dia bisa oke. Mungkin orang yang bertele-tele tapi kalo mukanya kaya rumah keong bisa mendatangkan hoki juga. Nah, kalo gue bukan bertele-tele, tapi jelas-jelas ngelantur dan ngawur. Karena kalo nggak gitu cerita ini akan beres hanya dalam 1 paragraf. Coba liat, sejauh ini kalian sudah baca berapa? Karena kalau dibaca sampai sejauh ini, ceritanya memang nggak penting, tapi yang penting adalah memaknai sesuatu yang nggak penting hingga menjadi (seolah-olah) penting. Kalo boleh meminjam istilah yang pernah dilontarkan temen SMA gue dalam judul film pendeknya, Ignaz a.k.a Didz bersama Radian a.k.a Jawa, maka tulisan ini menjadi suatu Cela Cendekia yang menyenangkan. Setidaknya buat gue.

Ya, jadi ada satu dialog lucu yang terjadi di shelter Mangga Dua. Itu bis yang sama yang sedang gue naikin yang jadi saksi bisu dialog aneh ini. Bis yang sama yang harus berdesakan satu jam hingga akhirnya mau dinaiki. Dasar kuda!

Shelter itu penuh sesak dan sedari sejam yang lalu tidak ada perubahan yang signifikan. Signifikan sih yang datang, tapi yang terangkut dikit. Dan bis berhenti di shelter itu, seperti biasa membuka pintu. Entah formalitas entah apa, pintu langsung ditutup kembali. Ya, jelas-jelas bisnya sudah penuh memang. Mungkin pak supir membuka pintu untuk mempersilakan yang berbaik hati untuk turun di tempat itu dan bergantian dengan penumpang lainnya. Tapi nyatanya tidak. Tapi kalau pakai logika, supir itu agak bodoh juga nampaknya. Kalau saja para tujuan penumpang busway itu cuma shelter Mangga Dua, buat apa pula mereka ngantri sampai sejam dan berdesak-desakan? Dogol. Mungkin si supir penganut aliran eksistensialis yang menganggap orang-orang yang ingin diakui dengan cara iseng bin aneh tersebut masih mungkin hidup sampai sekarang, tepatnya di Jakarta dan sedang liburan di Ancol. Mungkin.

“Ini kami udah nunggu dari sejam yang lalu. Ini ada ibu-ibu bawa bayi, kasihan ini!” Itu ada suara seorang bapak yang gue ga liat mukanya karena gue menghadap ke sisi yang membelakangi shelter dan dengan posisi yang sangat tidak mungkin untuk melihat lebih dari 120 derajat dari sudut pandang normal. Seperti yang dia katakan, dia kesal karena harus menunggu kira-kira satu jam dan harus berbuah kekecewaan pahit tidak terangkut. Pasti dia lelah. Apalagi dia terpaksa harus marah-marah dengan situasi yang seperti ini.

“Oh iya. Bayinya kasihan tuh.” Kata seorang bapak dari dalam bis, posisinya kira-kira di sebelah kiri depan gue. “Tapi ibunya nggak.” Tandasnya lagi dengan intonasi yang cukup keras. “Bayinya biarin masuk aja!” Lanjutnya untuk menutup persoalan. Dan pintu ditutup, tanpa gue tau si bayi jadi masuk (bersama ibunya) atau nggak. Karena selain bis udah penuh sesak, gue juga nggak bisa nengok.

Akhirnya, memang betul, bis yang ini mengalami pecah ban depan kanan di Senen. Hingga harus berhenti 10 meter dari shelter. Karena saking keheranannya gue dan Ucok ketawa-ketawa dan lalu tos menggunakan tangan kanan, seolah kami penyebab semua masalah ini, padahal jelas-jelas kami korban. Si Ucok bersama puluhan penumpang lainnya dengan cepat memutuskan untuk turun di tempat itu lewat pintu darurat. Sedangkan gue dan sisa penumpang lain yang juga terlantar tenang-tenang saja tetap di dalam bis. Dan lalu, betapa beruntungnya gue dengan keputusan itu, karena 2 bis cadangan datang 10 menit setelahnya, dan gue naik ke bis kedua melanjutkan perjalanan transit ke Matraman, lanjut ke Manggarai.

Amin.

Rabu, Juni 30, 2010

Bis Kota, Oh Beruntungnya Naik Bis Kota

Dan gue merasa beruntung mengikuti program residensi di Ancol ini. Apapun resikonya, toh sisi baiknya gue bisa segera menjauh dari segala permasalahan dan repetisi lawakan bodor yang hanya akan menghambat pikiran gue. Walaupun hanya untuk sementara. Bukankah, akan lebih baik untuk belajar dari pengalaman hari ini dan menjadi lebih baik di hari esok? Daripada selalu takut dan menghindari resiko yang jelas-jelas harus kita hadapi suatu hari nanti. Belajar dari pengalaman pahit sama saja seperti mengalami imunisasi. Untungnya, waktu yang tepat selalu berada di pihak gue.

Rutinitas naik bis ke suatu tempat dan pulang ke rumah. Berapa tahun sudah berlalu sejak terakhir gue sekolah? Dan setelah gue lulus dari ITB, bergelar sarjana seni (ah, nggak penting!) akhirnya secara cepat gue dikembalikan ke rutinitas itu. Dan dengan sudut pandang baru gue bisa melihat dan kembali belajar memaknai segala sesuatu yang terjadi di ibu kota.

Walaupun dominasi bau keringat para pekerja di sore hari menjelang malam sudah mulai berkurang dari suasana ini sejak kemunculan busway, tapi tetap ada kelucuan-kelucuan yang gue yakin ga akan didapatkan oleh anak-anak yang manja pulang-pergi diantar supir. Perihal mereka tetep aja stres karena macet yang naujubile, gue ga peduli! Toh, mereka tetep bisa duduk dan mengomel mencaci maki keadaan dan kesalahan dengan santai. Sementara di dalam bis kota, kebebasan hanya ada di mulut sopir dan kernet. Kalau mereka mencium pantat kendaraan lain dan harus digebukin masa, ya itu lain soal tentu saja. Tapi gue sendiri nggak nyangka, kalau rutinitas ini lambat laun menjadi sesuatu yang, walaupun harus dalam keadaan bungkam, tapi entah kenapa terasa menyenangkan.

Menyenangkan menjadi saksi tidak penting atas kejadian yang lebih tidak penting lagi, seperti misalnya tiba-tiba sopir turun saat lampu merah dan tiba-tiba kencing di jalan hanya ditutupi sehelai pintu besi, lalu kembali mengemudi dengan wajah tanpa dosa ataupun rasa bersalah. Men, itu di jalan raya! Atau bagaimana menghadapi arogansi seorang ibu dan anak dengan tabah saat merebut tempat duduk di bis yang penuh sesak. Mencoba mendapatkan jatah kursi untuk masing-masing dia dan anaknya. Atau menyerahkan jatah kursi pada kakek uzur walau kaki sebenarnya sudah menolak untuk dijadikan tumpuan lagi. Belum lagi saat muncul perasaan aneh bin bodoh saat bersebelahan dengan mbak-mbak kantoran cantik (dan wangi), untuk beberapa menit merasa dekat. Dan di menit lainnya kami harus rela berpisah di koridor busway yang berbeda.

Yah, sekelumit cerita dari kegiatan harian memang selalu menarik saat dimaknai secara lebih lanjut. Nggak usah ngiri dengan cerita gue. Hahaha. Karena toh emang nggak ada pentingnya. Tapi mungkin yang akhirnya perlu gue tulis di sini, dalam lingkungan seni yang gue tinggali selama ini gue memang selalu diajak untuk peka terhadap keadaan sekitar. Kepekaan itulah yang mungkin membedakan seniman dengan pekerjaan lainnya. Sebagai seniman, kepekaan itulah satu-satunya kekayaan yang kami miliki. Tapi bukan berarti gue sudah peka, jujur saja gue malah nggak mau terlalu peka dengan keadaan sekitar. Alasannya sederhana, biar gue bisa menarik diri dan tidak larur terlalu dalam terhadap satu masalah.

Egoiskah gue? Ha! Kalian yang menilai.

Kalaupun gue selama ini merasa diri gue beruntung dan memposisikan diri gue sebagai yang beruntung, adalah karena gue nggak punya keberuntungan lain selain memiliki perasaan itu. Mungkin kalian beruntung punya mobil dan sopir. Mungkin kalian beruntung kuliah di luar negri. Mungkin kalian beruntung karena orang tua kalian kaya (ah, tapi toh bukan kalian yang kaya, hahaha). Mungkin kalian beruntung karena teman kalian banyak. Tapi mengingat kembali tulisan Oom Kahlil, bahwa keberuntungan sejati datang dari hati yang tulus, mungkin kita memang harus melihat kembali untuk merasakan, apakah kita cukup beruntung?

Gue akhirnya bisa memaknai banyak hal karena gue juga belajar untuk bertoleransi dengan segala jenis keadaan. Dan nggak semua keadaan itu menyenangkan untuk dihadapi. Tapi mungkin juga, karena itulah gue akhirnya bisa menghadapi banyak hal tanpa harus merasa terlalu membebani ataupun terlalu jumawa.

Institusi manapun di mana kalian belajar tidak mengajarkan tentang rasa dan perasaan, mereka hanya menanamkan filter. Pelajaran tentang rasa dan memaknainya hanya akan dapat dipelajari setelah membuka diri dan menerima dunia luar.

Akhirnya, hanya ada satu kata penutup: “Cieee!”

“I’m jealous to the whole world”

Ouw yea, Lois Lane mungkin berhak untuk ngemeng kayak gitu. Dan setelah sekian lama (sekitar 12 tahun) sejak terakhir gue nonton film itu, akhirnya gue bisa memahami dan mengerti maksud ucapan doi.

Well, okay! Menurut gue sih, hal itu lucu. Selama ini gue melihat wanita dihadapkan pada kodrat dan kesombongan untuk dipuja-puji. Tapi toh di sisi lain mereka enggan mengakui kalau mereka lemah. Dan, oh, oke, gue belajar satu hal yang pasti tentang tipe wanita kayak gini; gengsi mereka selalu lebih besar dari akal sehat mereka untuk mengatakan yang sejujurnya. Bahwa mereka merasa tidak aman akan banyak hal sepele. They always feel insecure. Apapun itu, perasaan tidak aman-lah yang akhirnya membuat mereka membentuk benteng dan, yah, pada akhirnya mungkin banyak bersikap kontradiktif. Antara perasaan dan ucapan menjadi sangat berbeda, begitu kata para sesepuh.

Tapi, memang banyak wanita cukup tegar dan mampu menghadapinya. Gue tau itu. Tapi mungkin Naga Bonar benar perihal setiap wanita selalu ingin dinaikkan setali, setangguh apapun dia. Takut menyinggung perasaan orang yang akan tersinggung. Oke, gue sudahi yang ini. Hahaha. Lagipula, sudahlah. Wanita benci kalau dibaca pikirannya, walaupun sebetulnya sering kali mereka butuh itu juga.

Antara Lois dengan dunia ini, mana yang lebih penting buat Kal-El? Kehilangan dunia berarti juga kehilangan Lois, tapi untuk menyelamatkan dunia itu berarti menghilangkan Lois dari pikirannya. Beratnya, Lois nggak pernah peduli dan nggak pernah suka sama Clark. Yah, semua orang tahu siapa yang dia suka, walaupun itu bukan berarti seluruh dunia tahu siapa itu Lois Lane. Sebodo.

Dalam kasus yang sama cerita berbeda, gue memahami kata Peter, “This is my gift, this is my curse”. Keberadaan pahlawan super hanya sebuah gambaran ketakutan dan kelemahan kita yang selalu membutuhkan pertolongan. Oh, ya, tapi nggak salah-salah amat kalau itu memang harus terjadi. Toh orang yang lebih kuat memang berkewajiban membantu. Tapi Non, maaf, dalam kasus ini pahlawan super nggak ada bedanya dengan manusia biasa yang punya emosi dan punya keterbatasan. Doi bukan Tuhan, dan gue juga bukan pengkhotbah. Jadi sudahi saja wacana super a’la Mario Teguh ini. Super Mario!

Kalau bukan karena cemen dan manjanya orang, mungkin Lois nggak akan sampe ngomong kaya yang di atas itu. Kenapa? Karena orang pasti udah nggak butuh si manusia baja itu lagi. Tapi mungkin juga, toh karena Lois juga cemen maka Clark suka. Dan bukankah dunia berjalan seperti itu? Hahaha.

Kritik: Sotoy lo Ko!

Respon: Biarin! Gue kan Virgo, ye!

It’s funny to know some things spins off. So then we can learn to live our life to the fullest. Selalu ada kesempatan untuk belajar, tapi selalu saja ada beban untuk membuka mata. Ah, itu sih cuma alasan saja. Yang jelas, maksud gue memang butuh waktu untuk menyadari korelasi antara satu hal dan hal lainnya. Walaupun sekilas berbeda, tapi inspirasi datang dari mana saja. Apa sih?

“Karena menurut pengalamanku, saat kau berada di dasar, satu-satunya jalan tersisa adalah kembali ke atas” – Thaddeus Thatch, Atlantis (kira-kira begitu setelah diterjemahkan).

NB 1: Ngomong-ngomong, kenapa di sepanjang film Superman II isi banyolannya ga penting semua gitu sih?
NB 2: Eh, itu belum termasuk celetukannya Lex Luthor dan bapak-bapak yang tetep nelpon waktu Zod nyemburin badai.

Senin, April 19, 2010

Cara Berbicara dan Membicarakan


Beberapa detik yang lalu, entah kenapa gue merasa nyaman berada di lingkungan Seni Rupa ini. Nggak pengen lepas. Tapi gue tau dari pertama gue memasuki ruangan ini, suatu saat gue harus cabut. Nggak berarti sekedar "cabut" yang dilontarkan bocah-bocah untuk menandakan dia akan segera pergi dari hadapan kalian. Yang ini agak berlebihan. Buat beberapa orang bisa berkesan sentimentil bahkan.

Tapi, toh kita nanti bisa ketemu lagi. Direncanakan ataupun nggak.

Dan lalu, apa yang gue tinggalkan selagi peran gue belum sepenuhnya memudar. Selagi waktu gue belum sebegitu habisnya untuk dijadikan contoh, yang toh tidak juga sempurna. Gue pengen berbagi cara kerja gue untuk kesempatan yang terakhir kali. Karena setiap orang bisa menjadi seniman, karena setiap orang bisa tampil keren dalam segala sesuatu yang dilakukannya.

Apa yang gue inginkan sebenernya simpel. Gue cuma pengen membuat hal simpel jadi keren. Nyambung-nyambungin ke industri, bukannya itu peran industri? Membuat bahan mentah jadi bahan jadi, atau menambah guna suatu barang. Dan kalaupun industri itu adalah jasa, mungkin cukuplah kalau gue dianggap berjasa menjadi contoh yang baik. Kalau nggak pun, namanya juga manusia.

Tapi nggak lah ya. Kalo udah disertai usaha mana mungkin hasilnya jelek. Ya nggak?

Maafkan kalau teori Tabula Rasa-nya Pak Prim harus bekerja di kepala gue, menyebabkan gue terlupa akan banyak hal kecil yang terselip di pojokan otak. Tapi Bruce Banner mana menginginkan Betty Ross hilang dari akal pikirannya?

Sudah saatnya gue bertanggung jawab terhadap kata-kata gue. Sudah saatnya gue mengeluarkan catatan lama dari laci. Seharusnya tidak ada kata selamat tinggal, karena "keluarga" tetap "keluarga" untuk selamanya.

Senin, Desember 21, 2009

Saatnya TA, Saatnya Berleha-Leha, Saatnya Bercerita


Saat ini gue makan popmi yang komponen monosodium glutamatnya belum tercampur merata. Tapi nggak masalah, kerena toh masih enak-enak saja. Kecuali kalau air-yang-terlalu-banyak dihitung sebagai persoalan.

Pada suatu hari di suatu ketika saat gue sedang tidur dalam senyap, seorang anak kecil menghampiri gue dalam mimpi. Dengan kuda poni dari resin dan pancang carousel (what was that? carousel, phonecell, and michel? another jumble 3 and selsel business?), dengan blekberi di tangan dan messenger di layar. Every feeling to talk is a text. Now you text to talk.

Tapi di sini nggak ada yang salah. Yang salah adalah gimana gue udah nggak bisa berbicara dalam mengungkapkan apa yang gue rasakan. Di saat dunia sudah terlalu berisik, lebih baik gue diam. In the world full of sound, all you need to do is listen. In the world full of noise, all you need to do is move. If the world full of voice, and if you are granted a wish to mute one, whom would you pick?. For the sake of my life I believe you would never pick yours from the entire lines.

Berbicara tentang pameran everything you know about art is wrong. Berbicara tentang semua kesimpang-siuran fungsi seni yang membanal hingga sekedar menjadi hiasan profan. Berbicara tentang intereferensial yang terlalu jemawut dalam setiap catatan. Yang terlalu berakrobat dalam setiap penampakan yang gagal menyampaikan. Catatan kuratorial apa itu? Mencomot berbagai referensi dari apa yang dengan mudahnya dapat kita temui, di mana letak orisinalitasnya? Di mana letak wawasan studi akademisnya? Di mana letak kekuatan jualnya?

Atau jangan-jangan memang seperti itulah tabiat para kurator selama ini? Asal comot dan asal keren. Asal tak banyak orang yang tahu dan bahasanya terlihat seperti wah dan berpendidikan maka hadirlah di situ nilai jual. Entah kenapa pada titik ini kurator lebih terlihat seperti binaragawan ketimbang kuli pena di balik kaca mata gue. Atau nikmati saja keadaan ini, siapa tau akan bermunculan banyak kelatahan-kelatahan lain (dalam bahasa inggris diistilahkan dengan kata "after").

Mungkin yang salah adalah institusi seni yang terlalu lama mengagung-agungkan hukum dan dalil sehingga buku menjadi dewa bagi kaum librarian nekrofilik. Mungkin salah mereka juga kita tidak pernah diajarkan hal baru. Mungkin salah mereka kalau kita hanya boleh lulus atas apa yang sudah pernah dibuat. Mungkin salah mereka juga kalau perasaan dan ego orisinil itu mati. Sebab setiap kali kita merasa orisinil, kita harus kembali berhadapan dengan permasalahan lama di mana kita harus menemukan karya serupa yang sudah pernah dibuat sebelumnya. Seolah berkarya menjadi seperti iuran yang nantinya akan dikocok dalam arisan pameran di galeri-galeri besar yang tidak tahu apa isinya sebelum kita membuka gulungan kertas dan membacanya keras-keras.

Tapi toh saat gue buka Alkitab, di situ Raja Salomo (Nabi Sulaiman, King Solomon) pernah menegaskan bahwa tidak ada yang baru di dunia ini semuanya sia-sia dan semuanya sudah pernah dilakukan dan terus berputar. Yah, bahkan para avant-gardist sudah dibunuh sejak ribuan tahun yang lalu, dalam Kitab Kebijaksanaan yang ditulis sang raja.

Jadi apa yang salah tentang seni dan apa yang membuatnya tampak seperti itu? Apakah seniman tidak pernah tahu apa yang ia kerjakan? Apakah mereka terlalu malas bertanggung jawab atas karya mereka? Atau memang benar selama ini perihal words narrow art? Atau jangan-jangan semua yang kita lihat ini hanya akumulasi permukaan masalah yang kehadirannya seperti gunung es. Atau jangan-jangan semua ini hanya seolah salah. Mungkin semua ini hanya pelatuk yang memicu diskursus selanjutnya, mungkin juga seni memang sudah mati sejak ia dilahirkan dalam kesalahan. Mungkin yang kita lakukan selama ini hanya mengusung keranda mayat seni yang sudah lama mati.

Mungkin seni sudah lama mati bersama tuhan. Mereka mati dikhianati profit, dominasi, dan komodifikasi, dan ekspansi korporasi. Maka sejak itulah seniman bangkit dan berusaha mendekati fungsi tuhan dan menjadi tuhan-tuhan kecil (setidaknya bagi diri mereka sendiri). Masihkan kita merasa perlu untuk menyediakan waktu, menyempatkan diri menyaksikan acara realigi kacangan, yang hanya peduli rating, tapi tak berujung pangkal dalam menyelesaikan masalah dialog macet antar agama di negara ini? Mungkin Zapatista lebih berhasil menciptakan dialog terbuka tanpa narasi yang panjang lebar ketimbang kita yang katanya beragama, beretika, dan cinta damai ini.

Nic, Nic, sini dah. Gue pengen ngomong.

Suatu hari seorang teman pernah datang dan melihat draft catatan kuratorial yang gue buat. Waktu itu gue sadar kalau membuat catatan itu nggak akan berguna banyak, selain hanya menambah ketajaman insting dalam melakukan manuver dan akrobat bahasa. Gue bukannya pengen ngebocorin rahasia kalo temen gue yang ini anaknya labil dan sempet beberapa kali nangis tanpa sebab, tapi apa yang gue pengen sampaikan adalah omongannya. Bahwa dia pernah bertanya "Emang setiap catatan seni harus dibuat kayak gitu ya? Bisa nggak dibuat biar orang awam kayak gue bisa lebih gampang nangkepnya?" Yah, tapi omongan bodoh itu nggak menghasilkan apa-apa selain kebingungan lain yang menyebalkan. Kebingungan untuk menetapkan yang mana yang lebih pantas berada di dalam sorot lampu panggung. Antara permasalahan majas visual atau metafora.

Percayalah, gue memperhatikan dia lebih daripada gue memperhatikan pohon atau omongannya.

Sabtu, Desember 19, 2009

The Unimportant But Somehow Important


  1. mari kita gebrak langit dengan kepalan tangan mengangkasa dan belati terhimpit pada mulut...
  2. dengan beban yang harus secepatnya dilarikan, tenggat waktu yang tak dapat diabaikan, dan ketidakmungkinan untuk mengulang kebebalan...tidak ada lagi yang tersisa untuk disesalkan...
  3. belati terhimpit pada mulut...menghalau gertak gigi, mempersingkat kata, dan merapatkan bahasa...
  4. selamat berjuang, hei teman2 yang akan berpameran dalam waktu dekat ini...saya akan segera menyusul kalian dengan gebrakan selanjutnya!!!...
  5. seperti air beriak tanda batuk berdahak...seperti kacang lupa kulitnya...seperti orang tua lupa, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya...
  6. mau gambar kelinci kenapa jadi kura-kura?...mungkin ini akibat makan udang di balik batu... mau gambar kura-kura dalam perahu, kenapa jadinya malah bahtera rumah tangga?...mungkin nenek moyangku bukan pelaut, mungkin ia petani kacang lupa kulitnya...
  7. ada apa sih dengan peribahasa berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian?...apa sejak jaman nenek moyang udah banyak pemalakan di laut?...
  8. mencoba menggambar kura-kura dalam perahu...kenapa jadinya malah bahtera rumah tangga?...
  9. cuma orang narsis yang selalu bisa melihat ke belakang...itulah alasan mengapa mereka setara dan serupa dengan sopir dan tukang ojek...
  10. mau gambar kelinci kenapa jadi kura-kura?...oh, pantes kelincinya ketiduran pas lomba lari, jadi ga kegambar...
  11. mau beken kaya Ada Band?...gantungkan cita-citamu setinggi langit tujuh bidadari...
  12. apa mending jadi provokator aja?...bisa sekalian merangkap maling teriak maling...
  13. ga enak jadi maling...ga bisa lempar batu sembunyi tangan...tangannya kepanjangan...
  14. pagi-pagi gini enaknya makan udang di balik batu...
  15. good luck lucky bastard!...
  16. artists are freak because they destruct something good in order to make greater work...
  17. both God and I know that you are lying...
  18. you never know that someone is hurt, when you think no one need to know what hurts you...
  19. we don't point at ourselves because we can never see our back...
  20. lho, gue pernah denger dari seorang mertua seniman grafis bahwa "...seniman adalah manusia yang paling dekat dengan Tuhan"...jadi mungkin pernyataan itu ga salah-salah amat...hehehe...God I'm baptized... 0:-D
  21. Tuhan sempat bertanya "Mau jadi apa kamu nanti?"...gue jawab "Mau jadi seperti Engkau"...dan ternyata seperti itulah rasanya menjadi seniman...
  22. yang terdengar hanya suara nafas, degup jantung, dan goresan jarum di atas plat...terima kasih...
  23. dan hanya Tuhan boleh tindas kami, itu pun kalau Ia mau...
  24. pengen lempar sepatu tap-dance ke muka orang-orang yang banyak bacot...
  25. memang cuma etsa yang bisa bikin kulit putih... nb: maaf jika menyinggung para cukilers, sabloners, dan lithographers...
  26. teman2 bilang saya putihan...mungkin karena terlalu lama mendekam di penjara (baca: studio)...
  27. Dijual cepat! Semangat: tipe 45 untuk anda-anda yang sedang TA! Hubungi: xxx6-84040-xxx. Dijamin tokcer...
  28. don't think about a thing when you feel you don't want to...
  29. the easier you find someone, the harder you found them when they dissapear...
  30. nowhere to find when don't want to be found...
  31. google earth: travelling without moving...
  32. "cukup biarkan saya mengklaim seni sebagai jalan satu arah yang dapat membawa saya kepada anda"...
  33. mendrawing lagi!... ada gak ya orang kurang kerjaan yang iseng ngitung jumlah garis di karya gue...dan bener...hahaha...
  34. kalian para kaya dunia hanya sejumput bilangan yang mengais pertolongan kami kaum papa yang telah memahkotai dunia...
  35. threading borderlines by giving you all the things you need (appropriating C.A.J)...
  36. it's a constant wave that turns the lozenges of life to noncombustible zephyr...
  37. terhambat kodrat jengat pada tengat plat laknat tanpa syarat...
  38. ya Tuhan, seandainya ada satu hari yang tenang, saya akan berusaha melakukan 3 pengasaman bertingkat, SEKALIGUS!...
  39. saat kalian lihat apa yang kalian ingin lihat, maka aku akan menjejalkan mata jumawa kalian dengan propaganda penghabisan yang elegan...
  40. hidup seperti tahanan Pulau Buru...saat sakit berlanjut: KOP-ROLL sampai berkeringat...
  41. berkata: "Jangan harap menantang senja kalau tak dapat menyambut pagi!"...
  42. mencalang semiotika kosmetika dan wana nirmana panca indra anak naga di bibir kawah candradimuka...
  43. ulangi kata-kata "Sakral-Profan" di kepala, sebanyak yang anda butuhkan, hingga jadi waras kembali...
  44. your body is a graphic art!...
  45. Nderek Dewi Maria,temtu gengkang manah... Mboten yen kuwatoso, Ibu njangkung tansah... Kanjeng Ratu ing swarga, amba sumarak samya... Sang Dewi...mangestonono...
  46. you MAKE them happen!...
  47. no me chingues!...vete a la chingada!...
  48. Ισχύς μου η Αγάπη του Λαού (Ischys mū i agapi tou laou)...
  49. media nox meridies noster...
  50. let's play hide and seek...first body found will be the dead one...

Minggu, Oktober 18, 2009

Surat Mati Yang Mengingkari Bukti

Judul Sepanjang Isi Dengan Satu Inti: Gosip Lampu Merah Lawakan
Saat semua orang ingin didengarkan
Mereka berteriak riuh-lantang
Dalam tumpukan bahasa yang tak lagi dapat dicerna

Ambil satu dari kumpulan itu
Dalam senyap coba simak apa yang ia hasilkan
Taruhan, itu tidak lebih dari berita spekulasi yang digembar-gemborkan
Konsumsi pagi para budak belian yang diacuhkan majikan

Tempelkan kembali telinga mereka yang terlepas
Sepasang untuk satu orang
Mungkin perlahan desing koar ini menjadi sayup

Atau sekalian saja putuskan pita suaranya
Agar letup komat kamit cukup menjadi impuls informasi visual
Semua orang ingin didengarkan
Sayang tak satupun dari mereka dapat mendengar




Melingkar Perak di Sisi Nadi...
Menjalani kesibukan tanpa arah dalam genangan darah
Membalut lagi ranah yang sudah tertutup tanah
Memandangi batin yang tak terjamah
Mendeskripsikan emosi tersirat pada secercah rona wajah

Mencalang tafsir mimpi pada barisan waktu penghalang masa
Bersengketa dengan nipah logika kalam dan angkara
Ceceran ingatan ini bukan Urd, Verdandi, atau Skuld
Melainkan sinyal parik pecut prajurit pelanduk

Menghimpun barisan hasrat pada lapangan apel
Saat otak tak lebih baik dari ceret penadah air remasan pel
Siklus hidup tak menjawab semua doa yang tertuang dalam lingkar lilin kapel
Tak juga memberi prozac pada degup keingintahuan cantrik gembel

Masa ditemani dan ditinggal bisu membuncah serupa gelaran tablo hantu laut
Hamparan cerap netra yang senihil nasionalisasi jutaan lahan gambut
Meraga dalam goresan baja pada plat dengan semangat yang sudah habis terparut
Mencantumkan dua nama pada nadir langkah gontai berselimut kabut


It's a Big Hope, Smal Action...
Mereka ada di sekeliling kita tapi tak pernah kita lihat mereka
Menjaring kebebasan kita pada strata limasan
Negara tanpa hirarki berpijak pada awan kelabu utopia
Membenamkan kanal-kanal pemikiran dalam beton pasca ledakan

Senada langgam institusi pendidikan dengan mental politik proyekan
Ladang carang tiruan yang membuahkan anggur asam
Petinggi yang melebamkan wajah anak didiknya dengan guratan ultimatum non-akademis
Yang merekapitulasi setiap harga pembangunan yang tak pernah mereka biayai

Duduk dan nikmati sebelum kami berubah menjadi hantu yang mengaliri kursi dengan desis eksekusi
Yang kecewa pada senandung melayu dari mulutmu yang bau


Suatu Hari Suatu Pagi...Pada Selembar Hentakan Cahaya Beku...
Di kala-kala malam menjadi kalam dan sakral menjadi profan
Sejumput kenangan terbawa angin jalang yang melacur hingga sisi peradaban
Ditengahi lengking-ratap kesakitan
Pada bangsal yang tergeletak pasca anfal yang membikin mual

Hari ini semua manusia menjerit
Disaingi derit pintu kebenaran, semua nyawa minta didengarkan
Melalui bait-bait terkutip, melalui foto-foto bernada klise identik
Melalui situs pencahar bahasa yang mendengungkan desah menjadi propaganda

Hari ini banal dikonsumsi serupa nasi
Dan terus diungkit kembali, seolah tanggal ekspirasi menjadikan isi kaleng makin bernutrisi
Pada ayah ibu yang terpencar ditengahi anaknya,
Juga pada anak nirajar yang menjauhi akar sanak familinya

Esok, ketika rupa menjadi tua, dan salib memenuhi seluruh lipatan raga
Ketika jiwa dan raga hanya terikat sehelai bulu mata
Ketika berharap hanya sesingkat mengedipkan mata
Mungkin kita telah terlambat menyadari bahwa hidup tidak dapat dipercepat, tidak juga lamat

Esok, ketika fajar menyibakkan mata yang tertutup berhala
Ketika hari kemarin telah menjadi jauh lebih panjang dari jalan ke depan
Ketika meraba momen beku membuat mata tenggelam dan terpejam
Basi kita menyadari, bahwa hidup selalu tentang kurasi

Rotten Life, Rotten Apple
Drawing pen on paper, 15x15cm, 2007


Setiap Orang Bisa Jadi Cantik

Sementara majalah kecantikan membuat anda merasa buruk
Sementara mode membuat anda merasa miskin
Sementara anda memperhatikan noda di wajah lebih banyak daripada memperhatikan asupan gizi
Sementara kapitalisme membuat anda percaya lebih baik mati muda daripada menghadapi penuaan dini
Sementara ketidakpercayaan terhadap karma membawa anda kepada kekurangajaran berlebih
Sementara anda berpikir sudut depresi 45 derajat pada lensa membuat rasio wajah lebih menarik
Sementara "Reg (spasi)" menjadi kitab suci baru dan pegangan hidup
Sementara bioskop menjadi kardiogram kontemporer yang membuat anda yakin anda masih hidup

Setiap orang sudah cantik
Sementara diri sendiri yang membuatnya buruk

K.V

Sabtu, Juni 13, 2009

Metafor Kostum: Suatu Teori Retoris

Avant-Propos:
Pemikiran ini dimulai di WC seni rupa samping ruang seminar. Di saat tangan kanan sedang rileks dan tangan kiri sedang bersiap pada hal selanjutnya. Itu kalau menurut pendapat temen gue, Zaldy (yang nggak pernah di tes kebenarannya secara sah dan laik). Dan kata dia juga kalau dalam momen ini otak berada pada tahap paling inspiratif. Atau mungkin dalam tataran bahasa yang lain, psikologi seni seni misalnya, hal ini dijelaskan sebagai regression service of the ego yang menjelaskan tahap inspirasi seorang seniman, untuk membedakannya dengan orang dengan keterbelakangan mental (Bu Irma, bener nggak nih Bu?).

Hoek, jorok!

Nutrisi kompleks pada kedua hemisphere otak mulai melantur pada gelombang lamat-panjang. Melihat celana yang tergantung mengingatkan gue pada Clark Kent yang berganti baju secepat kilat pada sembarang boks telfon di metro (heran bajunya nggak pernah sekalipun rusak). Bukan merek baju tangguh itu yang akan gue bahas. Bukan pula perihal celana dalam salah pasang. Tapi sesuatu yang lebih dalam, makna lain yang tersembunyi di balik kostum itu. Hal yang secara khusus juga terjadi pada Peter Parker, Bruce Wayne, Barbara Gordon, Dinah Lance, Dick Grayson, Jason Todd, Tim Drake, Stephanie Brown, Damian Wayne, dan entah siapapun itu (karena gue cuma pernah baca via wikipedia).

Dimulai dari satu kata kunci: kostum, yang tiba-tiba terlintas saat gue ngegantungin celana. Berlanjut pada rentetan pertanyaan semrawut:
Ada apa dengan kostum itu?
Kenapa mereka berkostum?
Apa arti kostum tersebut bagi orang-orang di sekitar mereka?

Alasan "pra-sejarahnya" sih lagi-lagi berangkat dari semangat amerika yang terbuai heroisme pasca kemenangan mereka di PD II. Sadar nggak kalo kebanyakan warna kostum superhero di awal terutama yang jadi maskot, itu didominasi merah, biru, dan putih? Tapi (entah pernah ditulis sebelumnya atau belum gue ga peduli) akhirnya gue terjebak dalam pendapat konyol. Gue nganggep yang bikin kostum tuh si tokohnya, bukan pengarangnya. Selanjutnya gue menitik beratkan kostum pada permasalahan topeng. Maka gue menerima beberapa hipotesa, bahwa mereka berkostum karena alasan:
1. Takut,
2. Low profile,
3. Terlihat keren,
4. Nggak pede-an,
5. Pelampiasan alter ego.

Apapun itu lah ya...

Sebenernya apapun alesan pra penciptaannya, tapi toh perjalanan cerita (akhirnya) menjelaskan bahwa kostum itu melindungi orang-orang di sekitar mereka. Alasannya sederhana, kostum itu adalah topeng. Akhirnya yang gue maksud topeng di sini ga cuma sekedar suatu lapisan yang berfungsi menutupi wajah. Lebih dari itu topeng menutupi seluruh kepribadian si karakter.

Person yang kalau disandingkan dengan bahasa Indonesia sepertinya cocok dengan kata orang, atau yah, sesosok pribadi (dengan kepribadiannya), akar katanya dari persona. Arti persona sendiri ada beberapa:
1. Karakter yang dimainkan oleh seorang aktor,
2. Peran sosial, atau yah (maaf lagi lagi),
3. Topeng (makasih buat mas Wiki).

Duh, sialan. Akhirnya gue kecemplung dalam kasus etimologi bahasa. Tapi, mari persilakan gue bersikap sok seniman dalam mengerucutkan permasalahan secara sepihak. Maksud gue kostum akhirnya menjadi penanda kemunculan alter ego dari tokoh komik tersebut. Sebutlah si alter ego di sini merupakan sosok pahlawan bagi banyak orang. Misalnya Robin yang merupakan alter ego Tim Drake. Tapi dalam cerita ini, berapa banyak orang sih yang tahu kalau Tim Drake itu Robin the Wonder Boy?

Pertanyaan tadi akhirnya membawakan jawaban pada tiga pertanyaan sebelumnya. Tanpa kostum, Tim Drake yang beraksi di tengah malam akan hidup dengan ketakutan keesokan siangnya, saat dia sadar super villains yang dia ringkus semalam akan menuntut balas. Ah, tapi sayangnya Tim Drake dan penerusnya toh juga mati pada akhirnya, meninggalkan Bruce Wayne yang secara ajaib terus abadi ditemani Alfred Pennyworth dan Lucius Fox. Oh iya, tolong kesampingkan kasus karakter komik amerika yang selalu saja hidup lagi, berapa kalipun dia dibunuh dan diberitakan mati.

Keparat!

Tapi ayo lanjut. Semakin sedikit orang tahu identitas asli Robin, semakin aman pula orang-orang yang dekat dengan kehidupan Tim Drake. Kenapa? Coba ingat film-film india di mana entah ada berapa banyak Inspektur Vijay yang harus kerepotan membebaskan keluarganya dari cengkraman musuh. Satu hal yang pasti (selain jangan berikan anak kalian nama Vijay kalau kalian mau hidup tenang di hari tua), bahwa kostum itu juga melindungi identitas orang-orang terdekat si pahlawan. Katakan Matt Murdock sedang bersembunyi di amazon, maka akan mudah memancingnya keluar dengan menyandera (mungkin) tetangganya atau salah satu klien favoritnya. Apalagi di zaman modern seperti ini, di mana semuanya bisa di-googling. Nah, sekarang kita sedikit mengerti kenapa Bruce Wayne itu playboy.

Tuas diturunkan, dan air menggelontor seluruh isi jamban. Hmmm, sepertinya cukup sudah pemikiran malam yang melantur ini. Tolong jangan bantah teori gue, karena gue egois. Lagian gue juga udah bilang teori ini retoris.

Jumat, Juni 12, 2009

Kilometer Tanpa Ujung di Titik Nol

Saya tidak tahu sebanyak apa orang yang menganggap saya kawan.
Saya tidak peduli kalian peduli pada saya atau tidak sama sekali.
Tapi saya mengkoptasi kalian kawan saya, saat kalian peduli pada sesama kalian.

Saya tidak mengenal politik tapi saya inginkan revolusi.
Saya tidak peduli apa kalian mengenal politik atau tidak sama sekali.
Tapi saya yakin revolusi untuk membenahi dunia ada bersama tiap kebaikan yang kita berikan.

Saya bukan pejuang dan hanya sanggup bermimpi.
Saya tidak juga memaksakan mimpi saya pada kalian.
Tapi ternyata hal itu menjadikan diri saya bermanifes dalam pikiran kalian.

Saya tidak dapat banyak bicara tapi saya bisa tersenyum.
Saya tidak keberatan jika memang kalian pemurung atau pencemburu.
Tapi kalian pasti lebih memilih untuk membeli senyuman saya daripada kepalan tangan mereka.

Saya tidak peduli kalian memikirkan saya atau tidak.
Saya tidak membutuhkan eksistensi seperti itu.
Tapi banyak hal baik dimulai dari satu pikiran baik dan saya sedang bernyanyi di dalamnya.

Saya malas mengakuisisi konklusi dalam tulisan ini.
Saya juga tidak berniat menjastifikasi nilai moral apapun.
Tapi sepertinya kalian akan kembali pada judul untuk menemukan apa tujuan saya.

Sabtu, Juni 06, 2009

If You're a Printmaker, Act Like One...

Avant-propos...

Mulai mengisi kertas canson A3 kosong dengan goresan pensil. Mencoba memuntahkan apa yang sudah gue cerna. Dan nggak bisa. Mual ini nggak tertahan lagi. Akhirnya gue mencoba berkeliling studio. Dan di salah satu easel gue nemu tulisan dengan media kapur: gagal!!!

"Wanying! Apa-apaan si nih?"

Gue baca tulisan itu sama temen gue yang lain, yang kebetulan lagi ada di situ. Penasaran dengan apa yang bikin gue komen kaya gitu, dia langsung nyari tau (dan akhirnya tau).

Anak ini (yang nulis) lagi ngerjain karya grafis dengan teknik konvensional tentunya. Asumsi dasar yang gue pegang kalo dia sampe nulis kaya gitu, berarti: terjadi kesalahan teknis dalam pengerjaan plat, atau faktor lain di mana karya gagal untuk dijadikan edisi (minimal berdasarkan tuntutan kuota pribadi).

Satu-satunya cara untuk memastikan apa yang dia maksud lewat tulisan itu adalah dengan ngeliat hasil cetakannya itu sendiri. Akhirnya berdua kami nyari karya yang lagi dia kerjain. Ketemu, dan baru kami mulai menganalisa.

Cetakan pertama:
Gue: "Hah?"
Temen gue: "Lha, ini apanya yang gagal?"
Gue: "Hmm..."
Temen gue: "Oh, platnya kebalik ya?"

Cetakan kedua:
Temen gue: "Lha ini biasa aja..."
Gue: "..."

Cetakan ketiga:
Temen gue: "..."
Gue: "..."

Cetakan keempat dan seterusnya:
Gue: "Ya, ya, ya..."
Temen gue: "Oke, oke... Gak usah ditanyain lagi lah ye..."
Gue: "Ah, norak amat! Mau dia jago kayak apa juga sama aja boong kalo kayak gini. Namanya printmaker ya harus proofing lah. Gaya amat nggak pake proofing."

Anak ini ngerjain edisi dengan teknik yang bikin dia harus 'ngerusak' plat untuk nyetak warna yang baru. Artinya, dia nggak mungkin nyetak warna sebelumnya lagi. Dari apa yang gue liat, masalah ada di setting mesin press, yang miring sebelah. Tapi herannya kenapa sampe harus gagal sebanyak itu baru dia nyadar letak masalahnya (atau cara ngakalinnya).

Tapi yang bikin gue paling jengah waktu liat roller, papan press, sama batu litho yang dipake buat nyampur warna semuanya serba biru. Shit! Ya, emang nggak biru-biru amat, tapi biar dikit juga kalo tinta masih nyisa di alat gitu efeknya malah nggak akan bagus. Bikin semua nggak akan bener.

Silakan deh sebut gue sok seniman auratik yang salah zaman, sok perfeksionis atau apapun. Tapi gue nggak peduli. Soalnya ga mungkin kalo yang ngomong gitu tau cara ngejaga kebersihan. Waduk (bohong) lah!

Gue nggak tahan ngeliat semuanya. Tapi gue juga males ngebersihin. Batu litho tempat nge-roll tinta itu kotor, penuh nuansa biru. Sejaman-jaman batu litho nggak pernah sampe segitu joroknya. Cukup tau aja dah. Ngehe!

Akhirnya gue minta tolong temen gue buat ngangkat papan press dan kami ngebersihin bedua doang malem itu. Gue semprot roda-roda, baut, as roller, sama joint mesinnya pake WD40 plus diminyakin lagi. Apa boleh buat lah...

Atas apa yang gue rasain malem ini dan apa yang gue alamin, gue akhirnya memutuskan buat nulis note agar semuanya bisa baca, plus satu tulisan kapur lain di bawah tulisan temen gue itu (tapi gue males nulis lagi).

Pesan Dari Conrad...

Mesin cetak itu adalah teman kita yang terbaik.
Mereka ada bahkan sejak jaman dosen-dosen kita masih kuliah.
Mereka masih bisa bekerja dengan baik.
Jadi jangan salahkan mereka untuk kegagalan yang kalian terima.

Memang umur mereka sudah tua.
Tapi mereka masih dapat mengerjakan tugas mereka.
Memang mereka sudah renta.
Tapi mereka tetap labih dari sekedar onggokan instrumen besi belaka.

Mereka masih setia menemani kita di setiap waktu.
Di setiap tengat semester, di sepanjang tahun sejak kita masuk hingga nanti kita beranjak dan mungkin kembali lagi.

Kita membutuhkan mereka, begitu pula adik-adik kita nanti.
Mungkin juga kalian di suatu kesempatan lain.

Mungkin kalian nanti bisa dengan gampangya pergi meninggalkan mereka tanpa pamit.
Tapi bagaimana dengan adik-adik kita yang belum mengenal mereka.

Adalah kewajiban kita untuk mewariskan jiwa.
Adalah keharusan kita berbagi nyawa.

Bahwa proses berkarya merupakan suatu ritual.
Bahwa setiap peralatan yang kita punya merupakan modal.

Sadari keberadaan mereka di sana sebagai anugrah atas kekurangan kita untuk memiliki.
Sadarilah bahwa mereka merupakan akses menuju kemudahan, walau jangan pula sampai terninabobokan.

Rawatlah mereka, peliharalah mereka, bersikap baiklah pada mereka.
Atau setidaknya mulai dari bertanya "di mana letak kelalaian saya?"
Setiap kali hasil cetakan yang kita terima tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Karena adalah bodoh untuk memaki mesin yang tidak bernyawa.

Karena setiap hal kecil dalam instrumen grafis menentukan hasil akhir karya.
Karena satu kelalaian berpotensi pada kegagalan sia-sia.
Karena bukan tangan kalian yang mengaplikasikan tinta.
Karena bukan karena kecerdasan kalian hingga warna itu ada.

Karena seni grafis adalah ars multiplicata.
Selalu persiapkan diri sebelum berkarya, dan jangan pernah kehabisan tenaga sebelum semua kembali seperti sedia kala.
Selalu lakukan uji coba sebelum akhirnya beranjak pada edisi pertama.
Selalu jajarkan setiap cetak karya agar kalian tahu letak kekurangannya.

Saat semua orang mendewakan kemudahan dan melarikan diri pada era digital.
Bukan merupakan kutukan jika kita harus memahami teknik konvensional.

Karena langgam dan instrumentasi setiap studio berbeda.
Dan dalam studio kita, berbagi merupakan irama tanpa jeda.

Untuk semua alat yang ada di sana adalah hak kita untuk menggunakannya tanpa kita harus membeli
Jadi selalu bersihkan mereka kembali seperti saat sebelum kita gunakan
Jika alasan digunakan orang lain menjadi pembenaran kalian enggan membersihkan dan duduk berpangku tangan
Maka ucapan terimakasih pertama selayaknya dilayangkan pada kalian untuk setiap keberhasilan dan jerih payah adik-adik kita mendatang.

Akhirnya, seperti apa yang tertulis dengan tinta merah pada mereka untuk kalian ingat:
"Mencetaklah sepuasnya, setelah itu bersihkanlah sebersih-bersihnya."
Karena itu semua bukan pajangan belaka.
Maka, saat kalian berada pada lantai grafis, bersikaplah selayaknya seniman grafis.

Kamis, Juni 04, 2009

Mereduksi Kebosanan

Menulis lagi.

Oke, apa yang anda, eh, maaf, elo harapkan hari ini? Gue mengharapkan hari ini berjalan lucu. Ha. Sebenarnya jujur aje dah, gue punya tugas kritik seni yang harus dikerjain, tapi setelah 3 jam nggak jelas di depan komputer, gue memilih untuk onlen dan menggampar dunia maya. Lalu, voila! Nikmati saja.

Apa yang lo pikirkan kalo menghadapi kata PAPAN KENYATAAN? Tadi malem Iqi nanya itu ke gue, Danuh, Arif, dan Aul. Di sela-sela tawa sebagai pertanda ketidakseriusan kami dalam mendisplay pameran di CMNK untuk malam ini.

Jawaban gue? Papan MDF buat alas gambar.
Danuh? Papan skor pertandingan sepak bola.
Arif? Arif nggak jawab, keburu tua, jadi akhirnya gue dan Danuh yang mengutarakan isi hati Arif untuk menjawab pertanyaan ini. Suatu hal yang tidak akan pernah sempat ia sampaikan sampai akhir hayatnya. Tenang Rip, kami masih peduli padamu sampai kapan-kapan.
Aul? Gue lagi di WC waktu Aul ngejawab. Bukannya Aul nggak penting, tapi apa yang udah berada di ujung tanduk adalah yang paling penting.

Lalu apa sebenarnya makna papan kenyataan itu? Ternyata menurut cerita Iqi, itu adalah bahasa Malingsia untuk papan pengumuman. Astaga! Dan mulailah kami kembali mengigau.

"Sekolah di Sekolah Menengah Nyata."
"Periksa ke klinik dokter nyata."
"Jadi kita harus naik angkutan nyata."
"Hidup di dunia umum."
"Hal-hal nyata dan tak asing lagi."

Ya, ya. Keumumannya kami memang tertawa dengan tidak jelas tadi malam.

Senin, Februari 02, 2009

Jurnal Senirupa...

Sedang bosan di studio jadi pulang ke kosan. Bukan karena ada pengumuman yang menginap diberikan sanksi dan akan diproses (menurut hukum pak dekan). Menutup mata sejenak, dan la voila! Ternyata tidak sejenak.

Oakley. Mari sejenak kita tinggalkan segala basa-basi. Selamat datang di era kontemporer, dimana semua bisa menjadi mungkin. Ahey.

Kebosanan mulai menerawang di dalam kepala sejak detik kesekian setelah mata terbuka penuh, yang berarti beberapa puluh menit sejak resonansi otak tidak lagi berada dalam wilayah gelombang beta.

Nyalakan komputer, dan ternyata ada banyak folder dokumentasi yang masih perawan. Alih-alih mandi, semburat warna imajiner dari adop fotosyop memanggil raga untuk duduk kembali di atas tempat tidur.

Yak, selamat! Anda akan melewatkan waktu yang panjang dalam posisi seperti itu.



Mau liat karya lainnya? Ini ada link via fesbuk. Artinya kalian harus login dulu untuk bisa melihatnya. Maaf yah, kalau gue tidak jago dalam hal leyaut blog.

Awalnya photo editing ini bisa terjadi karena ingin mempublikasikan beberapa kegiatan berbau kampus seni rupa ITB yang pernah gue dokumentasikan. Tanpa ada keinginan untuk menampik anggapan si bapak dekan bahwa mahasiswa seni rupa banyak melakukan hal yang tidak berguna khususnya malam hari. Tapi seandainya beliau tetap berpendapat seperti itu ya itu sah-sah saja, toh gue nggak akan meminta maaf. Lagipula mau dan cenderung tidak mau, beliau yang sekarang ini tetap dekan fakultas seni rupa ITB. Setidaknya dia masih mau bilang sayang, bangga, dan cinta kepada kami para mahasiswa yang kurang ajar ini, walaupun hanya sebatas dalam pembukaan pameran. Dasar kami mahasiswa tak tahu diuntung, air susu dibalas air tuba.

Tuhan maafkanlah kami.

Seiring proses, ada rasa tidak tega jika melihat foto-foto tersebut muncul hanya sekedar dokumentasi acak. Akhirnya dengan ditambah beberapa sentuhan dijital lainnya, muncullah suatu bentuk kampanye seni rupa 'art is fun, find art' (perhatikan tulisan-tulisan tersembunyi pada sebagian besar foto). Kira-kira, setidaknya seperti itu.

Slogan 'find art' sebenarnya plesetan dari kata 'fine art', yang kalau dalam bahasa Indonesia berarti seni murni. Hmm, jadi agak aneh kalo mikir percakapan:
"Hi! how are you."
"I'm fine thank you."

Bukan berarti gue lagi melacur sebagai desainer, bukan. Lagian kaya lirik lagunya Titik Puspa yang dicover Peter Pan, Kupu-kupu Malam: "dosakah yang dia kerjakan, sucikah mereka (client) yang datang". Well, I'm not sure if some client are clean, and apparently they not come for cleansing. Untungnya karya ini dibuat bukan karena alasan klien.

Oke, dank u!

Special thanks buat Tommy A.P atas tambahan foto-foto di pameran Ideocrazy.

Senin, Januari 26, 2009

Keajaiban (keanehan) fesbuk II

Membuka-buka internet lagi. Mencari referensi. Nah loh, apa tuh. Angka satu di balon merah pada pojok kanan bawah. Ha. Calon ngaco nih halaman.

Jadi males nulis. Kenapa ya? Mungkin karena di luar sedang hujan. Eh, Beruang kan berhibernasi lho kalo musim dingin. Jadi karena gue juga mau beruang, gue sewajarnya harus berhibernasi di musim hujan. Hmm.

Minggu, Januari 25, 2009

It needs a clover and a bee to make a great prairie


Menonton film Hachimitsu to Kuroba (Honey and Clover) untuk kedua kalinya. Hehe. Selalu ada detil menarik untuk dilihat kembali. Tempo yang lambat di awal ternyata cukup menyebalkan, mengingat kandungan ceritanya sebenarnya menarik. Bisa dibilang first impression dari film ini menjemukan. Bleh.

Kesampingkan tata cara penulisan review gue yang nggak baik dan nggak benar, lalu mari kita mulai menuangkan kecap ke wajan.

Diangkat dari manga berjudul sama yang katanya laris di pasaran Jepang sana (heran, kok bisa laris sih? padahal berbau seni) karangan Chika Umino. Bercerita tentang kehidupan 4 mahasiswa senirupa dan 1 arsitektur yang sedang melewatkan masa-masa muda bahagia. Kalau dibaca secara terbalik boleh juga. Cerita tentang beberapa mahasiswa seni rupa yang menjalani masa mudanya dengan segala gaya khas seni rupa. Itu belum termasuk keunikan tiap tokohnya.

Secara keseluruhan tidak ada hal yang hiperbol di film ini. Anehnya mulai dari menit ke tigapuluh, ada saja rangsangan yang menarik sudut bibir ke arah atas. Scene yang gue maksud adalah saat tokoh bernama Hagumi, membuka matanya dan bangun dengan headphone terpasang di kepala dan mulai membentangkan kanvas. Mulai dari titik ini hilang sudah perasaan bosan. Mata juga terus asik mengalir mengikuti detil studio-studio yang terdapat di film ini. Sayang studio seni grafis nggak ada. Sial!

Kayaknya barusan gue udah bilang (baca: tulis), (eh keren nih!) kalo film ini nggak hiperbol. Oke, emang, tapi bukan berarti film ini hambar atau gimana. Pertama-tama gue nggak akan bilang film ini ngasih efek yang sama ke anak di luar ruang lingkup seni rupa, nggak bermaksud mengkotak-kotakkan, tapi ada beberapa detil yang hanya bisa berdampak pada mereka yang mendalami dunia seni. Misalnya saat tokoh Morishita dan Hagumi membuat lukisan di halaman studio. Dan kalau ditanya apa efeknya buat gue, Jun, dan Wing, seperti juga pada Bhiema dan Sapi; jawabanya adalah satu kata ambigu: "Anying!".

Awal yang lembek, eskalasi yang tidak disangka-sangka, klimaks yang oke, rasanya kurang lengkap kalau tanpa ending yang nyaman. Ahoy! Yak, film ini punya ending yang cukup nyaman dan meyakinkan, walaupun (yah) agak nggantung. Tapi ya udah lah nyantai aja, toh kita nggak nonton sambil mabuk bukan? Endingnya sama sekali tidak menutup cerita, hanya memberikan kesimpulan sementara. Tapi toh dari awal film alurnya tidak rusuh (hanya sedikit menggemaskan), jadi rasanya enteng aja menerima keseluruhan film.

Kesimpulannya film ini inspiratif, dan sebaiknya ditonton.

Sabtu, Januari 24, 2009

Tipuan mata

Ada yang salah dengan saya? eh salah, gue. Nah, itu kesalahan pertama. kesalahan berikutnya bisa jadi ada pada postingan ini. Kenapa? Nggak kenapa-napa juga sebenernya. Tapi karena gue orang yang suka cari-cari masalah, akibatnya ya gini.

Subuh jam 2:32am tadi, gue nyari makan ke Warung Bapak Gisin di depan kampus. Permasalahannya adalah nama penjual warung itu bukan Gisin, melainkan Charmin (baca dengan bahasa Indonesia berlogat Jawa). Tapi itu tidak menjadi masalah, karena kalau kita menghina-hina Pak Gisin di warung itu, tidak ada yang marah.

Gue pesen nasi goreng pedes (bukan pedas) satu setengah porsi, ya satu setengah, soalnya porsi Pak Gisin pelit. Jun pesen capcay pake telor, Molen pesen ayam goreng nggak pake lama, Wing minta mie goreng walaupun nantinya dia harus membayar juga. Berhubung Pak Gisin yang mengaku-ngaku bernama Pak Charmin itu sudah cukup berumur, maka kami tinggal dia di warungnya untuk memasak. Sedangkan kami yang masih muda pergi ke CK. Itu bukan berarti kami sombong, tapi Pak Gisin memang harus bekerja demi menafkahi keluarganya.

Di CK kami disambut dingin. Bandung terasa masih dingin diguyur hujan yang sekarang menjadi irit, tapi kios waralaba itu masih saja memasang AC. Mungkin bukan karena pemiliknya tolol, tapi biar sapaan selamat malam dari dua pegawainya malam itu terasa hangat. Sayang kedua pegawai itu laki-laki, dan tidak ada yang mengaku homo di antara kami berempat, maaf saja kalau kami acuh tak acuh.

Beres urusan kami di CK, kami kembali menuju warung si Bapak tanpa identitas yang jelas itu. Kami tidak menemukan masalah saat menyebrang jalan, mungkin karena kami sudah dewasa dan bisa menjaga diri sendiri.

"Dasar orang Indonesia, nyebrang bukan di sebra kros." Kata gue sambil tetap menyebrang. "Coba di Jepang. Huh!" Perjalanan berlanjut. "Ini lagi, bocah dugem! Bukan tempat parkir malah parkir! Itu lagi! Bukan tukang parkir sok-sok ngasih tempat parkir!"

"Haha." Wing membalas.

"Tapi cewek itu aneh ya?" Kata gue tanpa bermaksud nanya.

"Kenapa?" Wing mencari tahu.

"Bukan musim panas pake hot pants malam pula."

"Hmm."

Mendekati belokan Jalan Ganeca. "Aduh!" Mobil sialan berlampu xenon tiba-tiba melintas. Bukan karena cahayanya mendukung proses global warming yang berdampak pada berkurangnya populasi pinguin di antartika. Tapi karena cahayanya membuat bayangan tajam yang menghalangi pandangan di troroar berlumpur itu hingga gue nggak nyadar kalau ada kubangan air di sana. "Sialan!"

Kecil kemungkinan adanya kubangan di trotoar itu diakibatkan oleh kelalaian Dada Rosada yang terlalu asik membangun proyek kapitalis ini-itu. Tapi bisa jadi hutan Babakan Siliwangi yang semakin sedikit jumlah tumbuhannya mengakibatkan air yang gagal diresap tumbuhan menjadi tergenang di sana.

Akhirnya setelah menunggu beberapa sesaat kemudian, kami kembali dengan membawa makanan di kantong plastik untuk dimakan di kampus. Menggunakan kantong plastik bukan berarti kami menyatakan perang kepada anak-anak Planologi yang terkenal dengan kampanye anti plastic-bag mereka. Justru seharusnya mereka yang lebih baik mengumumkan perang terlebih dahulu kepada kami, berhubung kami iseng-iseng mengganggu mereka sewaktu acara wisudaan Oktober kemarin. Penyebabnya bukan karena mereka jelek, tapi karena kami memang anak-anak nakal. Cukup nakal mungkin untuk bilang mereka jelek.

Oke cerita berakhir di sini.

Mata anda sudah merasa tertipu? Kalau iya, coba periksakan diri anda ke psikolog. Bisa jadi jiwa anda sedang terguncang. Kalau anda bingung, bisa dipastikan anda bukan mahasiswa seni rupa tingkat akhir dan anda masih waras.